Pages

Minggu, 27 Juli 2008

ARSITEKTUR BANGUNAN RUMAH TEUKU SABI SILANG DI BLANG KRUENG, ACEH DARUSALLAM

Antariksa

Sejarah Bangunan Rumah Aceh
Suku bangsa Aceh yang mendiami sebagian besar daerah Aceh masih memiliki bangunan tradisioial. Jenis-jenis bangunan tradisioial yang dimilikinya berdasarkan kegunaannya dapat dikelompokkan atas bangunan tempat tinggal, bangunan tempat ibadat, dan bangunan tempat menyimpan harta.
Rumah tempat tinggal bagi suku bangsa Aceh disebut rumoh (rumah). Rumoh Aceh adalah rumah yang terdiri atas tiga ruang, yaitu ruang depan yang disebut seuramoe reunyeuen[1] atau seuramoe keue, ruang tengah yang disebut tungai[2], dan ruang belakang yang disebut seuramoe likot[3].
(Hadjad et al., 1984:21) Letak ketiga ruang itu tidak sama rata, sebab ruang tengah lebih tinggi dari pada ruang depan dan ruang belakang. Rumoh Aceh, adalah merupakan bangunan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari batang-batang kayu yang kuat. Tiang-tiang disebut tameh. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 buah yang besarnya lebih kurang 30 cm garis tengahnya. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter, sedangkan tinggi keseluruhan bangunan itu lebih kurang lima meter. (Hadjad et al., 1984:25; Hurgronje 1985:39)
Bagian bangunan yang berada di bawah lantai merupakan kolong terbuka karena tidak diberi dinding. Bagian ruangan rumah yang berada di atas tiang-tiang terbagi atas tiga ruangan, yaitu (1) ruangan depan disebut seuramoe reunyeuen (serambi bertangga) atau seoramoe keue (serambi depan), (2) ruang tengah yang disebut tungai, dan (3) ruang belakang (serambi belakang) yang disebut seuramoe likot. Ruang tengah letaknya lebih tinggi setengah meter dari pada ruang depan dan ruang belakang. Keseluruhan ruangan berbentuk ruangan empat persegi panjang.
(Hadjad et al., 1984:27-28)
Pada bagian tengah dinding depan terdapat pintu masuk dan pada dinding samping kanan dan kiri terdapat jendela, sedangkan untuk naik ke atas rumah didirikan sebuah tangga dari kayu[4]. Atap rumah merupakan atap berabung satu yang memanjang dari samping kiri ke samping kanan dengan dua cucuran atap. Kedua cucuran atap berada pada bagian depan dan belakang rumah, sedangkan perabungannya berada di bagian atas ruang tengah. Di bawah rumah bagian depan terdapat balai tempat duduk-duduk, sedangkan pada salah satu sudut rumah terdapat lumbung padi, dan tempat menumbuk padi.

Rumoh Aceh adalah rumah yang didirikan di atas tiang-tiang sehingga bentuk rumoh Aceh dapat dilihat dari bagian bawah, bagian atas, dan bagian atap atau bagian kap. Bagian bawah berbentuk kolong rumah yang berada di bawah lantai. Kolong rumah itu berada dalam keadaan terbuka karena tidak diberi dinding[5]. Tinggi lantai dari rumah lebih kurang 2,3 meter bagi lantai ruang depan dan ruang belakang, dan 2,8 meter bagi lantai ruang tengah. Tinggi kolom rumah yang berada di bawah ruang depan dan ruang belakang adalah 2,3 meter, sedangkan tinggi kolong yang berada di bawah ruang tengah adalah 2,8 meter. (Hadjad et al., 1984:27)
Pada kolong didapati deretan tiang-tiang rumah. Deretan tiang terdiri atas empat deretan, yaitu deretan depan, deretan tengah depan, deretan tengah belakang dan deretan belakang. Pada masing-masing deretan itu terdapat enam buah tiang. Tiang-tiang itu berderet menurut arah timur-barat.
Jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deretan lebih kurang dua setengah meter. Demikian juga jarak antara satu deretan tiang dengan deretan tiang yang lainnya[6].

Sejarah Rumah Teuku Sabi Silang
Teuku Sabi Silang adalah salah seorang Ulee Balang (Pemimpin)[7] di daerah Blang Krueng. Beliau memerintah mulai tahun 1311 Hijriah pada masa Kesultanan terakhir di Kerajaan Aceh (Sultan Mohd. Daudsyah). Pada saat itu merupakan masa puncak-puncaknya peperangan dengan Belanda.
Nenek moyang dari Teuku Sabi Silang ini berasal dari Persia, yaitu Sjech Nurdin yang datang ke Aceh pada tahun 920 Hijriah bersama dengan bala tentaranya.
Rumah Teuku Sabi Silang terletak di desa Blang Krueng, Kemukiman[
8] Cadek Silang, kecamatan Baitussalam Aceh Besar, tidak jauh dari kampus IAIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam.
Rumah Teuku Sabi Silang bentuknya seperti rumah tradisional Aceh yang memiliki tiang dan kolong rumah yang tinggi yang ruangannya terdiri dari serambi depan, ruang tengah dan serambi belakang dengan memakai atap pelana yang memanjang antara Timur dan Barat Rumah ini memiliki pintu masuk pada bagian depan yang mengarah ke Selatan[9]. (Gambar 1) Sewaktu dibangun, dapur untuk rumah ini yang berbentuk panggung terletak dibagian belakang dari rumah[10]. Kemudian karena ada dua kepala keluarga yang tinggal dirumah ini, maka dibangun satu dapur lagi pada sisi samping sebelah timur. (Gambar 2) Setelah kepala keluarga yang satu tidak tinggal lagi dirumah tersebut maka dapur yang terletak pada bagian belakang rumah itu dibongkar, tinggallah satu dapur saja di sisi timur samping rumah. Pada kolong rumah berfungsi untuk kegiatan sehari-hari yang tidak resmi. Ada bale (bangku) untuk duduk-duduk dengan tetangga, keluarga dan juga kegiatan menumbuk padi, tepung dan lain sebagainya. Pada bagian depan pintu masuk terdapat tangga ditutupi dengan teras berpanggung, di samping teras tersebut terdapat sebuah bak besar untuk menampung air.
Setiap orang yang akan naik kerumah mencuci terlebih dahulu kakinya. Rumah bagi orang Aceh adalah tempat yang suci dan bersih. Ketika berada dalam rumah kita akan melihat dari dekat banyaknya ornamen dan ukiran yang menghiasi rumah ini. Dari penyelesaian arsitekturnya menunjukkan bahwa pemilik rumah ini adalah orang yang berada dan berpengaruh serta memiliki kekuasaan. Masih tersisa juga perabot-perabot tua dan hiasan dinding yang berasal dari negeri China, Arab, Belanda yang merupakan hadiah dari tamu bagi pemilik rumah ini.

Gambar 1. Bagian depan pintu masuk bangunan rumah Teuku Sabi Silang.

Gambar 2. Bagian dapur yang hilang terbawa gelombang tsunami.

Sejak didirikan oleh Teuku Sabi Silang rumah ini tetap berdiri dan dihuni oleh keturunannya. Kondisi Bangunannya telah dimakan usia dan rayap serta kurang terawat, rumah ini terbuat dari kayu dan tidak dicat sejak awal didirikan hingga kini.
Keluarga besar Teuku Sabi Silang ini sebagian masih tinggal dilahan sekeliling rumah ini. Mereka membuat rumah panggung dan diatas tanah.
Di sekitar kampung Blang Krueng tidak ada rumah seperti rumah Teuku Sabi Silang ini.
Pada tanggal 26 Desember 2004 Aceh di landa musibah gempa dan gelombang tsunami. Desa Blang Krueng yang letaknnya sekitar 4 km dari laut Samudera India juga tak luput dari hantaman tsunami.
Ketinggian air di bawah kolong rumah Teuku Sabi Silang ini lebih kurang 2 m. Banyak bangunan di sekitarnya yang hancur. Rumah Teuku Sabi Silang ini menjadi tempat alternatif bagi warga di kampung tersebut dan dari kampung tetangganya desa Lam Ateuk sebagai tempat menyelamatkan diri. Sekitar 300 jiwa yang naik ke rumah ini selamat dari bencana, sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu dan anak-anak. Sementara pemilik rumah (Cut Meurah Intan) dan anaknya Cut Idawati yang turun dari rumah ketika gempa kini telah tiada dan tidak diketemukan mayatnya.
Kondisi rumah Teuku Sabi Silang ini kini telah banyak bagian yang rusak dan hilang, dan yang tinggal terakhir di rumah ini adalah Cut Meurah Intan dan anaknya Cut Idawati. Cut Meurah intan adalah istri dari T.M. Daud. T.M. Daud adalah salah seorang anak dari Teuku Sabi Silang. Cucu dari Cut Meurah Intan yang bernama T.Muslian sebelum tsunami tinggal di rumah ini bersama neneknya. Dia selamat dari bencana.
Setelah
tsunami rumah ini tidak ditempati lagi. Dapur dari rumah yang letaknya terpisah dari rumah utama (rumah Aceh) dan berbentuk panggung yang berada pada sisi sebelah Timur telah tiada hilang dibawa tsunami begitu juga dengan orang-orang yang berada di dalamnya ketika tsunami datang, tidak ada yang selamat.
Rumah Teuku Sabi Silang sebagaimana rumah Aceh lainnya tebuat dari kayu. Dengan usianya yang sudah tua (sekitar 200 tahun), ada bagian dari rumah ini yang di makan rayap dan lapuk. Salah satu tiangnya dibawa
tsunami dan ada yang patah. Tiang lainnya ada yang bergeser. Dinding dan lantainya ada juga yang sudah lubang. (lihat tabel kerusakan Bangunan). Teras yang terletak dibagian selatan dan melindungi tangga untuk pintu masuk kerumah juga rusak.
Rumah Teuku Sabi Silang yang beratapkan seng ini, kini kondisinya semakin parah. Lantai pada bagian serambi belakang telah lepas, karena tiang penyangga yang patah ketika gempa dan tsunami tidak ada yang memperbaiki, sedangkan tiang disebelahnya telah hilang dibawa
tsunami.
Kini rumah Teuku Sabi Silang merupakan salah satu warisan budaya yang masih bisa dilihat dan dijadikan acuan untuk mempelajari bagaimana arsitektur rumah aceh yang pernah dibangun oleh bangsanya sendiri. Bagaimana nasib rumah ini kedepan sangat tergantung sikap yang diambil saat ini. Akankah ada pihak yang ingin memperbaikinya?

Tipologi Bangunan Rumah Teuku Sabi Silang
Bagian atas merupakan bagian ruangan rumah. Keseluruhan ruangan rumah Teuku Sabi Silang berbentuk ruangan empat persegi panjang yang dibagi atas tiga ruangan yang lebih kecil, yaitu (1) ruang depan (serambi depan), yang disebut seuramoe keue atau seuramoe reunyeuen (serambi bagian tangga), (2) ruang tengah yang disebut tungai dan (3) ruang belakang yang disebut seuramoe likot. Letak ruang tungai lebih tinggi setengah meter daripada ruang depan dan ruang belakang. Serambi depan dan serambi belakang sama tingginya. Oleh karena itu, lantai ketiga ruangan tidak bersatu. Jadi masing-masing ruangan mempunyai lantai yang terpisah-pisah. (Gambar 3)

Gambar 3. Letak serambi depan, tengah dan belakang, antara serambi depan dan belakang mempunyai ketinggian yang sama.

Pada sekeliling ruangan itu terdapat dinding rumah. Pintu masuk utama ke rumah terdapat pada bagian tengah dinding depan. Letak pintu dapur terdapat pada ujung sebelah kiri ruangan bagian belakang. Tepatnya pada dinding sebelah kiri.
Atap rumah adalah atap yang berabung satu. Rabung itu memanjang dari samping kiri ke samping kanan, sedangkan cucuran atapnya berada dibagian depan dan belakang rumah. Rabung rumah yang disebut tampong berada dibagian atas ruangan tengah. Atap rumah adalah dari bahan seng.
Pada dinding sebelah depan yang menghadap ke halaman rumah terdapat pintu masuk yang disebut pinto rumoh, yang berukuran lebih kurang lebar 0,8 meter, dan tingginya 1 meter.
Pada dinding sebelah samping kanan dan kiri terdapat jendela yang berukuran lebih kurang lebar 0,6 meter dan tingginya 1 meter yang disebut tingkap. Kadang-kadang jendela terdapat juga pada dinding sisi depan.
Jendela rumah yang disebut tingkap terdapat pada dinding sebelah kiri, kanan, depan dan belakang setiap ruangan, kecuali pada sisi dinding pada pintu yang ke dapur. Pada dinding yang ujung sebelah barat dari ruangan belakang itu terdapat sebuah jendela yang besarnya sama dengan jendela yang terdapat pada serambi depan, sedangkan pada ujung sebelah timur tidak terdapat jendela karena di tempat itu ada dapur. (Gambar 4)

Gambar 4. Sisi ujung dinding sebelah timur dihubungkan dengan pintu yang ke dapur.

Di atas dinding depan bagian luar terdapat rak tempat meletakkan barang-barang kecil yang disebut sandeng. Untuk tempat duduk pada umumnya menggunakan tikar yang dihampar sepanjang serambi depan tersebut. Jadi, serambi depan ini sifatnya terbuka.
Kalau serambi depan sifatnya terbuka, maka ruangan tengah sifatnya tertutup, karena di ruangan tengah ini terdapat tiga buah bilik (kamar) tempat tidur. Ketiga kamar tersebut masing-masing terletak di ujung sebelah kiri satu kamar dan diujung sebelah kanan dua ruangan tengah tersebut. Letak kedua kamar itu didasarkan pada kebiasaan letak rumah, yaitu menghadap ke Utara atau ke Selatan, maka ketiga kamar itu masing-masing terletak di sebelah Timur dan di sebelah Barat, sedangkan di tengah-tengah ruangan tersebut gang yang menghubungkan serambi depan dengan serambi belakang yang disebut rambat. Ketiga kamar tersebut masing-masing diberi nama rumoh inong dan anjong. Rumoh inong adalah kamar yang berada di sebelah barat, sedangkan anjong adalah dua kamar yang berada di sebelah Timur.
Pada setiap kamar masing-masing terdapat sebuah jendela, hanya pada kamar bagian tengah tidak terdapat jendela. Jendela untuk anjong terdapat pada dinding kamar sebelah Timur, sedangkan rumoh inong terdapat pada dinding kamar sebelah Barat. Pintu rumoh inong menghadap ke rambat, sedangkan pintu anjong satu menghadap ke rambat dan satunya menghadap ke serambi belakang. Di dalam kamar terdapat para yang berfungsi sebagai loteng dan juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang yang jarang digunakan atau senjata-senjata tajam seperti tombak, pedang, kelewang, dan lain-lain.
Pada serambi belakang bagian barat di sebelah rumoh inong terdapat satu buah kamar tidur, sedangkan bagian lainnya polos seperti serambi depan. Pada ruangan ini terdapat pintu yang menuju ke dapur, dan kondisi saat ini dapur sudah tidak ada lagi dibawa tsunami. Rumoh dapu itu didirikan di samping rumah bagian belakang dan berdempetan dengan berhubungan dengan ruang serambi belakang. Letak ruangan dapur tersebut lebih rendah dari serambi belakang, dan berada di atas tanah. Antara ruangan belakang dengan ruangan dapur dihubungkan oleh sebuah tungai.
Ruangan lain yang juga kita dapati di bagian depan luar rumah adalah ruangan balai yang disebut bale. Bale ini merupakan ruangan terbuka sebagai tempat duduk-duduk bersantai. Tinggi ruangan itu kira-kira satu meter dari tanah.

Fungsi Ruang-Ruang Dalam Rumah Teuku Sabi Silang
Ruangan depan adalah ruangan yang serba guna sesuai dengan keadaannya yang terbuka karena tidak berbilik-bilik. Fungsi ruangan depan antara lain sebagai tempat menerima tamu, tempat duduk untuk makan ketika ada acara-acara kenduri dan perkawinan, tempat anak-anak belajar dan mengaji, tempat sembahyang dan tempat tidur-tiduran. Selain itu, ruangan depan ini dipergunakan sebagai tempat tidur bagi anak-anak, terutama anak laki-laki. (Gambar 5)

Gambar 5. Ruang depan (serambi depan), yang disebut seuramoe keueseuramoe reunyeuen atau (serambi bagian tangga).

Bagi rumah yang menggunakan tradisi menggunakan kursi tempat duduk, maka kursi tersebut ditempatkan di ruangan ini. Ruangan ini dipergunakan juga sebagai tempat menyimpan padi jika padi tersebut tidak muat lagi di dalam lumbung.
Ruangan tengah sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu adalah ruangan yang terdiri atas tiga buah bilik (kamar), masing-masing terdapat di sebelah Timur dan di sebelah Barat, dan sebuah gang. Oleh karena itu, fungsi utama ruangan tengah ini adalah sebagai ruangan tempat tidur, sedangkan gang yang terdapat di tengah-tengah berfungsi sebagai tempat lalau lintas antara ruangan (serambi) depan dengan ruangan (serambi) belakang.
Kamar sebelah Barat yang disebut rumoh inong biasanya ditempati oleh kepala keluarga, sedangkan kamar sebelah Timur yang disebut rumoh anjong ditempati oleh anak-anak perempuan. Jika ada anak perempuan yang sudah dikawinkan, rumah inong ditempati oleh anak perempuan tersebut, sedangkan kepala keluarga pindah ke rumoh anjong. Anak-anak yang semula menempati rumoh anjong pindah ke ruangan (serambi) belakang di ujung sebelah Barat. Selanjutnya bila ada dua anak perempuan yang sudah dikawinkan, sedangkan kepala keluarga tersebut belum mampu mendirikan rumah yang lain, maka kamar sebelah Barat diserahkan untuk anak perempuan yang tertua dan kamar sebelah Timur diserahkan untuk anak perempuan yang muda. Dalam keadaan seperti ini kepala keluarga terpaksa menyingkir ke serambi belakang bagian Barat.
Sebagaian ruangan belakang dipergunakan sebagai ruangan dapur, dan ruangan tempat makan. Dapur biasanya terletak sebelah timur. Jika ruangan belakang ini menggunakan anjong atau ulee kuede, maka dapur diletakkan di anjong.
Bagian Barat dari ruangan belakang ini dipergunakan sebagai tempat duduk dan tempat sembahyang. Kadang-kadang dipergunakan juga untuk tempat tidur bagi keluarga yang banyak anggota keluarga.

Ragam Hias Rumah Teuku Sabi Silang
Pada bangunan rumah Teuku Sabi Silang banyak dijumpai ukir-ukiran, karena suku bangsa Aceh pada hakekatnya termasuk suku bangsa yang berjiwa seni. Ukir-ukiran yang terdapat pada bangunan tradisional seperti tersebut di atas mempunyai berbagai motif atau ragam hias. Motif-motif tersebut adalah motif yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti, flora, fauna, dan awan. Fungsi utama dari berbagai jenis motif dan ragam hias itu adalah sebagai hiasan semata-mata, sehingga dari ukiran tersebut tidak mengandung arti dan maksud-maksud tertentu, kecuali motif bintang dan bulan, yang menunjukkan simbol ke-Islaman, motif awan berarak (awan meucanek) yang menunjukkan lambang kesuburan, dan motif tali berpintal (taloe meuputa) yang menunjukkan ikatan persaudaraan yang kuat bagi masyarakat suku bangsa Aceh.
Ragam hias yang bermotif flora (tumbuh-tumbuhan) adalah ragam hias yang bermotif bunga-bunga seperti bungong meulu (bunga melur), bungong jeumpa (sejenis bunga cempaka), bungong mata uroe, yang kadang-kadang dilengkapi juga dengan daun-daunnya. Hiasan-hiasan bunga itu bukanlah merupakan yang berdiri sendiri, tetapi setiap ukiran bunga tersebut dipadukan dalam satu ikatan ukiran yang berbentuk taloe meuputa (pintalan tali). Taloe meuputa itulah yang dijadikan sebagai batang dan tangkai untuk setiap ukiran yang bermotif bunga tersebut. Setiap ukiran yang bermotif bunga-bungan beserta dengan daun-daunnya itu tidak diberi corak warna tersendiri, karena pada umumnya ragam hias bangunan tradisional suku bangsa Aceh tidak diberi warna. Jika ada yang berwarna, itu merupakan akibat pengaruh masa kini. Warna hiasan itu pada umumnya disesuaikan dengan warna dasar dari pada keseluruhan warna zat bangunan tersebut. Ragam hias yang bermotif bunga-bunga yang ditempatkan pada bangunan rumah Teuku Sabi Silang terutama terdapat pada binteh (dinding), tulak angen (penahan angin), kindang (landasan dinding), indreng (balok pada bagian kap), dan tingkap (jendela)[11].
(Gambar 6) Seperti telah dikemukakan di atas bahwa hiasan-hiasan (ukir-ukiran) yang terdapat pada umumnya tidak mempunyai arti dan maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya dengan hiasan yang bermotif bunga-bunga, semata-mata hanya berfungsi sebagai keindahan saja.

Gambar 6. Ragam hias pada bangunan Rumah Teuku Sabi Silang.

Jadi semula tidak diberi warna dan dalam perkembangan akhir-akhir ini warnanya disesuaikan dengan warna dasar keseluruhan warna cat bangunan itu. Seperti telah dikemukakan di atas, maka hiasan yang bermotif burung, ayam dan itik pada umunya untuk dinding-dinding berlobang seperti tulak angen yang ditempatkan pada kedua ujung kap bagian atas yang berbentuk segitiga. Selain itu ditempatkan pada dinding bagian atas yang berfungsi sebagai lobang angin.
Ragam hias alam, adalah ragam hias yang disebut canek awan (awan berarak). Disebut canek awan karena berbentuk awan berarak. Penempatan ukiran yang bermotif canek awan ini biasanya ditempatkan pada reunyeun (tangga), pada kindang (landasan dinding) dan kadang-kadang pada peulangan bagian dalam, yaitu balok besar yang dipasang pada ujung balok toi ruang tengah.

Sistem dan Struktur Bangunan
Pada kolong bangunan terdapat tiang-tiang rumah (tameh rumoh). Bentuk tiang itu bundar dan dibuat dari batang kayu yang kuat. Jumlah tiang tergantung kepada besar kecilnya rumah. Rumah yang besar yang disebut rumoh limong reweueng (rumah lima ruang) mempunyai 24 buah tiang. Tiang-tiang itu tidak ditanam dalam tanah, tetapi didirikan di atas pondasi (landasan tiang) dari batu sungai yang disebut gaki tameh. Gaki tameh ini pun tidak ditanam dalam tanah, tetapi diletakkan di atas pondasi persegi yang dicor dari campuran semen yang tingginya 20 cm. (Gambar 7)

Gambar 7. Pondasi persegi yang dicor dari campuran semen yang tingginya 20 cm.

Tiang-tiang itu didirikan dalam empat deretan, yaitu pada deretan depan, tengah depan, tenagh belakang dan pada deretan belakang, sehingga pada masing-masing deretan terdapat enam buah tiang. Tinggi tiang pada deretan depan dan belakang kira-kira empat meter dan pada deretan tengah depan dan tengah belakang kira-kira lima setengah meter. Jarak antara tiang dengan tiang yang lain kira-kira dua setengah meter. Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua buah lobang dan pada bagian ujungnya dibuat sebuah puting (puteng tameh).
Tiang-tiang itu dihubungakan antara satu dengan yang lain oleh kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lobang-lobang tiang-tiang tersebut. Kayu balok yang menghubungkan tiang dengan tiang-tiang dalam satu deretan disebut rok, sedangkan kayu balok yang menghubungkan satu deretan tiang dengan deretan tiang deretan tiang yang lain disebut toi. Dengan dipasangnya rok dan toi itu, maka tiang-tiang yang didirikan di atas tanah yang beralaskan batu dapat berdiri dengan kokoh, karena sudah saling berhubungan. Untuk lebih mengokohkan bangunan itu, maka selain dipasang rok dan toi dipasang pula dua buah balok besar yang disebut peulangan. Peulangan itu masing-masing dipasang pada ujung balok toi ruangan tengah (tungai). Selain itu, untuk menguatkan pemasangan rok atau toi pada lobang-lobang tiang, maka pada setiap lobang tiang dipasang pula pasak yang disebut bajoe. Dengan berdirinya tiang-tiang itu, maka terbentuklah bangunan rumah bagian bawah.
(Gambar 8)

Gambar 8. Kayu balok yang menghubungkan tiang dengan tiang.

Bagian atas rumah Teuku Sabi Silang adalah bagian ruangan rumah yang terdiri atas ruangan serambi depan (seuramoe reunyeuen atau seuramoe keue), ruangan tengah (tungai) dan ruangan serambi belakang (seuramoe likot). Ruangan tengah lebih tinggi sedikit kira-kira setengah meter daripada ruangan depan dan belakang. Pada masing-masing ruangan diberi lantai dan dinding. Pemasangan lantai yang disebut aleue dilakukan dengan cara terlebih dahulu dipasang beberapa balok (kira-kira sembilan buah) di atas balok-balok toi pada setiap ruangan yang disebut lhue. Demikian pula untuk lhue dahulu kebanyakan terbuat dari batang bamboo, sedangkan sekarang kebanyakan terbuat dari balok kayu. Bagi rumah yang memakai lantai papan, maka cara pemasangannya dengan cara memaku lantai papan itu pada balok lhue.
Pemasangan dinding yang disebut binteh dilakukan berdasarkan jenis dinding yang dipakai. Bagi rumah yang memakai dinding papan pemasangannya dilakukan dengan cara memaku dinding itu pada tiang-tiang rumah. Untuk dinding di samping kiri dan samping kanan pemakuannya dilakukan juga pada rang, yaui tiang kecil yang dipasang di antara tiang-tiang rumah. Rang itu bertumpu pada balok toi yang terdapat pada tiang-tiang samping. Pemasangan dinding rumah Teuku Sabi Silang selain dipaku atau diikat pada tiang-tiang juga diletakkan di atas balok-balok yang dipasang pada ujung toi atau ujung lhue yang disebut kindang. Kindang itulah tempat tumpuan dinding rumah, sehingga pemasangan dinding-dinding itu lebih kuat. Sebenarnya di bagian atas kindang dipasang lagi papan kecil yang disebut boh pisang. Dinding rumah tidak hanya memakai dinding luar saja, tetapi juga memakai dinding dalam, yaitu dinding pada ruangan tengah (tungai). Dinding itu merupakan dinding-dinding besar yang terdapat pada ruangan tengah. Dinding dalam itu bertumpu pada peulangan. (Gambar 9)

Gambar 9. Dinding dalam itu bertumpu pada peulangan.

Konstruksi kap rumah pada bagian depan dan belakang bertumpu pada balok yang dipasang pada ujung tiang deretan depan dan belakang yang disebut bara. Konstruksi kap bagian tengah yang berada di atas ruangan tengah bertumpu pada balok yang dipasang pada puting tiang deretan tengah depan dan tengah belakang yang disebut bara panyang yang letaknya sejajar dengan bara. Selain bertumpu pada bara panyang konstruksi kap juga bertumpu pada bara linteueng (bara yang melintang), yaitu balok yang menghubungkan puting tiang deretan tengah belakang. Di tengah-tengah setiap bara linteueng didirikan balok tinggi lebih kurang satu meter yang disebut diri (deuri). Ujung atas diri ini dihubungkan antara satu dengan yang lain oleh sebuah balok yang disebut tuleueng rueng. Tuleueng rueng inilah yang merupakan bagian puncak dari konstruksi kap. Pada kedua ujung bara linteueng itu dipasang pula sebuah balok dalam posisi miring yang disebut indreng yang letaknya sejajar dengan bara panyang. Pada masing-masing indreng dipasang pula sebuah balok yang dalam posisi agak miring yang disebut ceureumen. Letak ceureumen itu sejajar dengan bara linteueng. Ceureumen itu terdapat pada kedua ujung indreng. Pada bagaian tengah masing-masing ceureumen didirikan sebuah diri lagi, sehingga diri inilah yang menjadi penunjang tuleueng rueng pada kedua ujung hubungan rumah.
Setelah terdapatnya bara, bara linteueng, bara panyang, indreng, ceureumen, diri dan tuleueng rueng, maka sebagian besar konstruksi sudah terpasang, yang tinggal hanyalah kasau, tumpuan kasau, kasau pendek, kayu-kayu kecil tempat pengikat atap. Kasau rumah yang disebut gaseue dibuat dari pohon-pohon kayu yang agak kecil sebesar batang bambu. Kasau itu dipasang di atas bara dan indreng, sedangkan pada bagian pangkal kasau bertumpu pada sebuah balok yang disebut neuduek gaseue dan bagian ujungnya bersandar pada teleueng rueng. Pada bagian pangkal kasau akan merupakan bagian cucuran atap dan pada bagian ujung kasau akan merupakan bubungan atap (puncak atap). Pada neuduek gaseue dipasang beberapa potong kayu penahan yang disebut bui teungeuet. Pada bagian ujung bui teungeuet diikat dengan tali kawat yang disebut taloe bawai. Lalu taloe bawai ini disangkutkan pada setiap puting tiang deretan depan dan belakang. Sebenarnya taloe bawai inilah yang merupakan penahan utama dari keseluruhan kap rumah yang berbentuk kerucut.
Untuk pemasangan atap yang terbuat dari daun rumbia (daun sagu) diperlukan bilahan batang pinang sebagai tempat pengikat atap rumah yang disebut beuleubah. Beuleubah itu dipasang di antara kasau-kasau. Pada bagian pangkal, beuleubah itu bertumpu pada sepotong kayu panjang yang disebut neuduek beuleubah. Pada beuleubah itulah atap rumah diikat dengan tali rotan. Pada ujung kiri dan kanan atap dipasang selembar papan yang agak kecil, sejenis les palang yang disebut seupi. Untuk pemasangan kap dan atap tidak dipergunakan paku. Pengganti paku dipergunakan tali ijuk atau tali rotan untuk pengikatnya. Penggunakan paku untuk rumah hanya terbatas untuk pemasangan dinding dan lantai, itu pun kalau rumah itu berdinding papan dan berlantai papan.

Kondisi Umum Bangunan Setelah Gempa dan Tsunami
Dari hasil observasi kerusakan bangunan rumah Teuku Sabi Silang dapat diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu rusak akibat gempa, rusak akibat gelombang tsunami, dan rusak akibat dimakan rayap.
Akibat gempa, dapat dilihat pada bangunan yang terdapat di tangga pintu masuk kondisinya sudah rusak dan sebagian roboh atapnya.
Dapur yang terdapat menempel di bagian belakang bangunan hilang terbawa oleh gelombang tsunami.
Daun jendela yang terdapat pada bagian sisi belakang bangunan lepas dari dinding bangunannya. Di samping itu, ada satu tiang yang posisi letaknya sudah bergeser sekitar satu meter dari pondasinya, dan beberapa tiang juga bergeser sekitar 10 cm dari pondasinya, kemudian terdapat satu tiang yang hilang terbawa oleh arus gelombang tsunami. Hal ini berakibat pada lantai papan yang ditopang oleh struktur tiang tersebut menjadi patah, demikian juga pada balok melintang yang menghubungkan kedua tiang rusak dan patah, sehingga balok-balok lantai yang menahan lantai papan di atasnya juga mengalami kerusakan.
Kemudian terdapat empat tiang pada bagian bawah yang ditopang pondasi sudah rusak akibat dimakan rayap. Juga terdapat satu tiang di ruang tengah yang bagian ujungnya lepas dari balok melintangnya.
Pada ornamen yang terdapat pada dinding depan rumah, dinding bagian dalam rumah, beberapa bagian dimakan rayap dan lepas dan sebagian besar masih bagus kondisinya. Pada ornamen bagian samping kiri dan kanan rumah sebagian ada yang lepas dan ada juga yang dimakan rayap, sedangkan untuk ornament pada dinding bagian belakang sudah banyak yang lepas dan dimakan rayap. Ornamen-ornamen tersebut mempunyai fungsi sebagai ventilasi udara. Pada beberapa ornamen yang menempel pada balok melintang pada bagian luar bangunan masih bagus kondisinya, sedangkan untuk ornament yang menempel pada balok melintang samping belakang bagian luar kelihatan retak-retak.
Untuk balok lantai ada sebagian yang rusak akibat dimakan rayap, dan sebagian patah akibat gempa, sedangkan lantai papan banyak yang dimakan rayap, hilang, dan sebagian masih dapat dimanfaatkan karena kondisinya masih baik.
Keseluruhan rangka atap kondisinya masih baik, sehingga masih dapat digunakan lagi hanya penutup atap yang terbuat dari seng bisa diganti dengan penutup atap dari rumbia.

Beberapa Teknik Tradisionil Dalam Bangunan

- Penempatan tiang-tiang yang diletakkan di atas pondasi, dan masing-masing tiang tidak dihubungkan dengan balok penghubung. Hal ini merupakan ciri khas dari bangunan tahan gempa.

- Tiang-tiang yang terdapat di bagian samping kanan dan kiri bangunan pada bagian atasnya tidak menopang beban. Pada bagian atas dari tiang dibuat menonjol dan lebih kecil ukurannya, kemudian balok-balok yang menghubungkan antar tiang diberi lobang sebesar ukuran yang menonjol tersebut kemudian diletakkan di atas tiang.

- Penempatan skor pada kuda-kuda yang dihubungkan dengan balok melintang yang ada di bawahnya tidak menggunakan baut atau paku. Pada bagian bawah dari skoor tersebut sebagai pengikat hanya diberi dua buah pasak, sehingga kalau menerima beban atau gerakan dari atas akan melentur tidak merusak struktur kuda-kuda atau atap secara keseluruhan.

- Pertemuan balok melintang yang menopang pada ruang-ruang utama dengan balok memanjang, yaitu dengan memberi lobang pada balok memanjang yang fungsinya untuk memasukkan sebagian dari balok melintang agar sebagian dari balok melintang tersebut dapat dimasukkan, sehinga bila terjadi gerakan tidak merusak struktur bangunan.

Penutup
Hasil observasi kerusakan bangunan rumah Teuku Sabi Silang dapat diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu rusak akibat gempa, rusak akibat gelombang tsunami, dan rusak akibat dimakan rayap.
Diketemukan beberapa teknik tradisionil dalam struktur dan konstruksi bangunan rumah Teuku Sabi Silang
Perlu segera dilakukan pengukuran dan penggambaran dan pendokumentasian dari bangunan tersebut secara lengkap sebelum dilakukan rekonstruksi dan restorasi. Selanjutnya, dilakukan penandaan atau pengkodean pada keseluruhan bagian bangunan yang akan dilepas dan diperbaiki.
Pada bagian-bagian yang akan diperbaiki perlu hati-hati agar tidak merusak struktur lamanya dan juga mempunyai nilai historis dari bangunan tersebut. Bagian dari bangunan yang rusak berat dapat diganti dengan bahan yang baru, sedangkan yang rusak sebagian dapat diganti pada bagian yang rusak, dengan mempertahankan bagian yang dianggap masih baik. Pada tahapan ini, perbaikan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik dan metoda baru dan dapat juga mempertahankan teknik dan metoda lama (tradisionil) dalam sambungan kayu. Bila hal ini dirasakan bahwa metode yang tradisional masih bisa dipertahankan baik secara teknis dan strukturnya untuk jangka waktu yang lama.

Daftar Pustaka

Alfian, T. I. 2005. Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hadjad, A., Zaini, A., Mursalan, A., Kasim, S. M., & Razali, U. 1884. Arsitektur Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1981/1982

Hurgronje, S. 1985. Aceh Di Mata Kolonialis, Jilid I, Jakarta: Yayasan Soko Guru.

Hurgronje, S. 1985. Aceh Di Mata Kolonialis, Jilid II, Jakarta: Yayasan Soko Guru.

Reid, A. 2005. Asal Mula Konflik Aceh Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.


[1] Inilah bagian dari rumah khas Aceh, tempat tamu-tamu dipersilahkan, di tempat ini kenduri diadakan, yaitu upacara makan bersama yang sifatnya keagamaan; di tempat ini pulalah diadakan pembicaraan atau rapat-rapat keluarga. (Hurgronje 1985:44).

[2] Di sini mengandung beberapa makna yang terdapat di dalamnya. Mengapa ruang tengah (tungai) lebih tinggi daripada ruangan (serambi) depan dan belakang. Hal ini disebabkan pada ruangan tengah terdapat kamar yang ditempati oleh orang-orang yang lebih tua yang perlu dihormati, seperti ayah, ibu dan anak-anak perempuan yang sudah dikawinkan (bersuami) dalam keluarga rumah tangga tersebut. (Hadjad et al., 1984:74)

[3] Seuramoe likot, tempat tinggal para wanita dan tempat mereka melakukan kesibukan sehari-hari. Pada hakekatnya dipakai sebagai ruangan keluarga dan sebagaimana kita lihat, seringkali juga sebagai dapur (Hurgronje 1985:44;45).

[4] Dengan letak pintu pada bagian depan berarti memasukkan orang-orang yang ke luar masuk rumah harus selalu merunduk, sebab kalau tidak merunduk pasti kepalanya akan terantuk dengan balok bara yang berada di atas pintu. Demikian pula halnya ketika orang akan menaiki tangga dan menuruni tangga, harus dalam keadaan murunduk. Itu sebabnya rumah Aceh dibuat tinggi-tinggi agar rumah yang tinggi itu memerlukan tangga. (Hadjad et al., 1984:75)

[5] Para wanita juga menempatkan alat tenun di kolong rumah dan juga melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga di sana; inilah sebabnya, maka sebagian kolong rumah terkadang dipisahkan dari bagian yang lain dengan sejenis penyekat (pupalang). Apabila sedang pesta, sebagian dari para tamu undangan dapat juga diberi tempat duduk di sini sebagaimana para pria pelayat yang datang menyatakan ikut berduka cita pada waktu ada yang meninggal dunia, dipersilahkan duduk juga di kolong rumah. (Hurgronje 1985:43). Pada bagian depan kolong itu kadang-kadang terdapat balai (bale) tempat duduk-duduk, sedangkan pada bagian belakang terdapat kandang ayam atau itik. Namun, sekarang kandang ayam itu jarang ditempatkan pada kolong rumah (Hadjad et al., 1984:27).

[6] Hal ini erat hubungannya dengan masalah keamanan, yaitu keamanan dari gangguan-gangguan binatang buas dan keamanan dari pencurian-pencurian. (Hadjad et al., 1984:73-74)

[7] Para ul��balang, sebagaimana berulang-ulang kami tegaskan adalah yang dipertuan di negeri masing-masing, dan merupakan kepala wilayah par excellence. Maka, mereka disebut raja (dalam bahasa Aceh bermakna Kepala) dari wilayah masing-masing, baik secara nyata maupun kiasan. Sebutan ke ul��balangan telah diciptakan oleh orang Belanda, dan orang Aceh menyebutnya nanggr�� (negeri) uleebalang Anu� atau sekian Mukim. (Hurgronje 1985:99; Hadjad et al., 1984:16)

[8] Di antara para pejabat gampong dengan ul��balang atau penguasa wilayah terdapat para imeum (imam), yang mengepalai daerah mukim. (Hurgronje 1985:90; Hadjad et al., 1984:9) Mukim pada awalnya adalah himpunan beberapa desa untuk mendukung sebuah masjid yang dipimpin oleh seorang Imam (Reid 2005:3). Mukim ialah sutu istilah Arab, yang makna sebenarnya ialah penduduk suatu tempat. Hukum Islam menurut mazhab Syafi�i yang unggul di tanah Aceh, menentukan bahwa untuk menegakkan jemaat hari Jum�at mutlak diperlukan kehadiran paling sedikit 40 orang mukim yang termasuk golongan penduduk bebas (bukan budak belian) yang telah dewasa (Hurgronje 1985:91).

[9] Letak rumah Aceh biasanya menghadap utara atau ke selatan, sehingga membujur dari timur ke barat. Hal ini merupakan suatu kebiasaan. Kebiasaan tersebut ditinjau dari segi agama Islam adalah untuk memudahkan pengenalan kiblat yang di Indonesia arah kiblatnya berada di sebelah barat. (Hadjad et al., 1984:77) Di samping itu, hal ini erat hubungannya dengan masalah arah bertiupnya angin di daerah Aceh. Angin di daerah Aceh biasanya bertiup dari arah timur ke barat atau sebaliknya (Hadjad et al., 1984:73).

[10] Mengapa dapur rumah Aceh terdapat dalam rumah? Ini pun mengandung maksud. Seperti yang telah diketahui dahulu belum dikenal adanya sistem penerangan seperti sekarang (adanya lampu dinding, lilin, lampu petromak atau strongking, listrik), maka nyala api ketika memasak di dapur dapat berfungsi sebagai penerangan pada malam hari. Inilah sebabnya, maka dapur terdapat di dalam ruangan rumah. (Hadjad et al., 1984:75)

[11] Hiasan-hiasan (ukiran-ukiran) yang terdapat pada bangunan tradisional suku bangsa Aceh pada umumnya tidak mempunyai arti dan maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya dengan hiasan yang bermotif bunga-bunga ini, semata-mata hanya berfungsi sebagai keindahan saja (Hadjad et al., 1984:63).


Kunjungan ke lokasi telah dilakukan pada bulan April 2005, dalam rangka Evaluation and Action Plan to Restore Cultural Heritage in Wood Construction in Darussalam Aceh, Project: Emergency and Transition Aid for Tsunami Disaster Victim in Indonesia), The Deutsche Gesellschaft Fuer Technische Zusammenarbeit (GTZ) Germany, sedangkan versi artikel ilmiahnya telah dipublikasikan dalam JURNAL TEKNIK, XIII (3):188-201 tahun 2006 dengan judul �Arsitektur Bangunan Rumah Teuku Sabi Silang di Blang Krueng, Aceh Darussalam Pasca Gempa dan Tsunami�. Terima kasih diberikan kepada Gunther Kohl team leader pada GTZ-Emergency and Transition Aid for Tsunami Disaster Victims in Indonesia. Hanns Polak, Alexander James Roberts, Peter Heidrich dari GTZ-Project Banda Aceh. Zahriah ST, Staf Pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syah Kuala. Sara Hoeflich de Duque, chief tecnica advisor pada GTZ Urban Quality Yogyakarta, dan Dr. Ir. Ikaputra, M.Eng., Staf Pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Copyright � 2008 by antariksa

Sabtu, 19 Juli 2008

The History and Architecture of My�shin-ji and Daitoku-ji Temple Monasteries in Kyoto

Antariksa

Introduction

In the middle of the fourteenth century, the Five Temples or Five Mountains (gozan)[1] took rank of the others in Kamakura and Kyoto. However in the Muromachi period (1394-1596), the system was reformed and more importance was laid on the temple of Ky�to was the government site. Those have been the best days for the Zen sect�s temple. After that, the Zen sects throve under the protection of the warriors, the Kamakura government (1182-1333), the Muromachi government and the Ed� government (1596-1868). Historically, there has been a close relationship between Zen and the warrior class in Japan. Most of Zen temples were patronized by warriors� families. The Zen complex is in general axial in plan and roughly symmetrically bilateral. This reflects the regimentation of the Zen monk�s daily life, in which each act is expected to contribute to an over all attitude of religious discipline (Nishi & Hozumi, 1986). The layout of Tien-t�ung and Pei are of special significance because traces of their influence can be found in numerous Zen temples of Japan (Dumoulin, 1988). The purpose of this study is to attempt to clarify the history and architecture of Rinzai Zen sect Buddhist monastery in Ky�to.

THE ARCHITECTURE AND HISTORY OF RINKA GROUP IN KYOTO

There are two rinka temples which are still remains until now a Daitoku-ji and My�shin-ji. Both of this monasteries mentioned above have characteristic in the arrangement plan, which are not far different, thus likewise in the architecture in a whole. The main building place in one straight line and as the point of the buildings is the hatt�.

The My�shin-ji temple
The temple of My�shin-ji was found in 1337, the year of great revolution of Japan. Seeking earnestly in the disorder of the society for Zen in order to solve his deep suffering, the Emperor Hanazono (r.1308-1317) built this temple. Then, priest Kanzan Egen (1277-1360) became its founder. A new period of growth for My�shin-ji began under the leadership of the renewed priest Sekk� S�shin (1508-1486), who after the devastations of the Onin period (1467-1469), restored order to the monastery internal and economic life and succeeded in getting back all the monastic properties.
The architecture of the Myoshin-ji temple was designed Zen in style. All the main buildings it was remains with one straight line in arrangement plan. The sanmon, butsuden and hatt� are the Zen style in architecture. The butsuden and hatt� where connected with a corridor. There is one movement space from one part into the other part with higher sphere of space. The movement of space is contained by the one transition space called corridor which connect between two spaces mentions. (Figs. 1 and 2)

Fig. 1 The Buddha hall (butsuden) and Dharma hall (hatt�) of My�shin-ji monastery were connected with a corridor.

Fig. 2 The plan of butsudenhatt� of My�shin-ji monastery.

Enter into the modern times the My�shin-ji monastery remarkable enrich, the construction at the center of the main buildings almost separated in two terms. The first in Momoyama period is butsuden (1583), h�j� (1592), the sanmon (1599) and chokushimon (Imperial Gate Messenger) in 1610 were erection. The �h�j� (1654), hatt� (1656), an k�h�j� (1603) was erected, the central part of My�shin-ji monastery is furnished. Furthermore, the bustuden was reconstruction in the later days of Tokugawa government, in 1827. In the early Kamakura and Muromachi periods the daizenin was different, in front of the butsuden, kuin and s�d� was not be place at there. Then in the early of Momoyama and Edo periods the feudal lords founder and establishment many sub temples (tattch) surroundings at My�shin-ji monastery. This is the best Rinzai sect monastery whose in arrangement used the architecture of the Zen style.

The Daitoku-ji Temple

A priest Shho My�ch� (Daito Kokushi, 1282-1338) founded it. This temple it was not ranked among gozan, but it had unique character though it was powerless. During the sixteenth century Daitoku-ji was patronized by the prominent warriors of the time. It was this period that most of its numerous temples were founded. Daitoku-ji has had many priest famous in history such as Takuan S�h� (1573-1645) who was punished by the government in 1627 and Ikkyu (1394-1481) who in spite of treats accomplished his own study of the human Zen. So it was deeply related to the �tea ceremony� founded by tea master Sen no Rikyu (1521-1591). The arrangement plan of this temple still remains in the present day, showed the grandeur of the monastery with Zen style architecture design. If we pay attention to this architecture of this temple, we can see one experience in architecture movement from the main buildings enter in to sub temples. In this plan between the bustuden and hatt� was connected by the corridor (kair�).
The chokushimon (Imperial Messenger Gate), a national treasure, is the first gate at the inner enclosure, and it is closed on ordinary days. The gate was originally built as the south gate of the Imperial Palace in the eighteenth year of Tensh� (1590) constructed by Toyotomi Hideyoshi and served as a gate of the Imperial Palace until 1640. It was given to Daitoku-ji as a gift from the Empress Meisho. It is a fine example of the carved-gable style of the Momoyama period. The chokushimon it is close placed in front of the sanmon gate with different characteristic in both styles of their buildings. The roof of this gate is typically borrowed from Chinese in its style. (Fig. 3)

Fig. 3 The chokushimon (Imperial Messenger Gate). It was constructed in 1590; it is an example of the curved-gable style of the Momoyama period.

The Tower gate (sanmon) of the temple was rebuilt at that time of Ikkyu�s. The Tower gate, for instance: while the lower half dates from 1523-1526, the upper storey was added about 1589 by the most celebrated masters of the tea master Sen no Rikyu. Among the protrusion of paintings and statues is a statue of Rikyu himself, carved by him. The shogun Toyotomi Hideyoshi was one of Rikyu�s tea students, but when, for political reasons, the teacher felt out of favor, Hideyoshi was narrowly prevented from destroying the temple in history. The architecture form of this gate showed smear with Zen style, appear in the composition of the brackets detail. It was set up along the eaves and between inter columnar of the pillars, then all of the buildings was covered with red color. This gate has a plaque which says �kemono-kaku� (golden hair pavilion), made by the sixteenth century priest Sengaku Sodo, and the end tiles of the roof are decorated with the character for gold. The idea of a main gate with the usable second story was introduced in the Kamakura period by the large Zen temples. In order to reach the upper storey a stairway was needed, and since there was no place for one inside the structure, stairway were put up out side, at either end, and completed by a small entry house at the foot of the steps (Mosher, 1987). (Fig. 4)

Fig. 4 The sanmon of Daitoku-ji monastery, the upper storey was added by the tea master Sen no Rikyu in 1589.

The butsuden, the present structure dates from 1665. Its principal image is shaka, seated on a lotus blossom decorated with wheels, the symbol of Buddhist law. In two alcoves a long the back wall are six other images, given in 1540, the three memorial tablets in front of shaka are for the Emperor Go-Daigo, Daito Kokushi, and Tett� Gik� (1295-1369) the successor of Daito. The butsuden was designed with the architecture of the Zen style. Among the details of this building which make it characteristic of the architecture imported by the Zen sect are the cusped-arch windows, the tile floor, the suspended swinging wood doors, and the curved lateral interior beam the last used in China to connect members on two levels but in Japan reduced to a purely decorative function (Mosher 1987). (Fig. 5)

Fig. 5 Details of the butsuden, this which make it characteristic of the architecture of Zen style.

The Daitoku-ji monastery first building was a lecture hall (hatt�), but it burned many times and the present hall dates from 1636. It is probably similar to the fourteenth century original, which was the temple�s first building. The hatt� of Daitoku-ji is typical of both Zen Buddha halls and lecture halls. In that it is nearly square, five by four bays covered by a flat ceiling which was punished, like all of them, with a circular painting of a shaggy but not very fear some looking dragon. Where the Buddha hall has an altar platform with images, the lecture hall has an elevated pulpit, reached by stairs from both sides and crowned by a throne under a canopy; all these features reinforce the authority of the abbot (Popham, 1990). The sole furniture of the building is the abbot�s throne near the back, with canopy hanging over it. The dragon on the ceiling, a standard component of orthodox Zen sect lecture halls, was painted by the famous Kan� Tany (1602-1674). Architecturally the hatt�, like the butsuden is characteristic of the Zen style. This building had corridor connecting in to the h�j�.

CONCLUSION
In the case of the layout plan of Rinzai sect monasteries in Ky�to, not all of these monasteries used the south-north arrangement axis. For instance Nanzen-ji and Tenry-ji monasteries had used the east-west arrangement axis. The special arrangement of the plan of these two Rinzai sect monastery temples, gave encouragement towards a modification different from that of the Chinese plan layout.
The central functioning buildings of the Zen Buddhism monastery reflect the repetition, consistency, persistence, and order of the monastery ritual.Outside the monastery, small Zen temples always show the presence of difference architecture which opposite in free designated. Compare with the architecture of the Zen monasteries which rigid and consistent. To find the reason for this contradiction, we must turn to the character of the sect itself.

REFERENCES

Dumoulin, H. Zen Buddhism: A History India and China, Translated by James W. Heisig and Paul Knitter, vol. 1, New York: Macmillan Publishing Company, 1988a.

Dumoulin, H. Zen Buddhism: A History Japan, Translated by James W. Heisig and Paul Knitter, vol. 2, New York: Macmillan Publishing Company, 1988b.

Mosher, G. Ky�t�, A Contemplative Guide, Toky�: Charles E. Tuttle Company, 1987.

Nishi, K. & Hozumi, K. What is Japanese Architecture? A survey of traditional Japanese architecture, with a list of sites and map, Translated, adapted, and with an introduction by H. Mack Horton, Toky�: Kodansha International Ltd., 1985.

Popham, P. Wooden Temples of Japan, Travel to Landmark, London: Tauris Park Books, 1990.


[1] In the medieval ages, Rinzai sect temples in Ky�to, such as Nanzen-ji, Sh�koku-ji, Tenryu-ji, Kennin-ji, T�fuku-ji and Manju-ji became the center of the gozan group. They were called �sorin�. While Daitoku-ji and Myoshin-ji temples belonged to the �rinka� group of Rinzai sect temple.

Copyright � 2008 by antariksa

Jumat, 18 Juli 2008

SEJARAH DAN KONSERVASI PERKOTAAN SEBAGAI DASAR PERANCANGAN KOTA

Antariksa

Pendahuluan

Dewasa ini kota-kota di dunia telah banyak mengalami perkembangan dan perubahan yang sangat pesat, dalam perubahan tersebut, bangunan, kawasan maupun objek budaya yang perlu dilestarikan menjadi rawan untuk hilang dan hancur, dan dengan sendirinya akan digantikan dengan bangunan, kawasan ataupun objek lainnya yang lebih bersifat ekonomis-komersial. Gejala penurunan kualitas fisik tersebut, dengan mudah dapat diamati pada kawasan kotakota tersebut pada umumnya berada dalam tekanan pembangunan. Dengan kondisi pembangunan yang ada sekarang, budaya membangun pun telah mengalami perbedaan nalar, hal ini terjadi karena kekuatan-kekuatan masyarakat tidak menjadi bagian dalam proses urbanis yang pragmatis. Urbanisasi dan industrialisasi menjadikan fenomena tersendiri yang menyebabkan pertambahan penduduk yang signifikan serta permintaan akan lahan untuk permukiman semakin meningkat di perkotaan. Bagian dari permasalahan itu, akan membuat kawasan kota yang menyimpan nilai kesejarahan semakin terdesak dan terkikis. Pertentangan atau kontradiksi antara pembangunan sebagai kota �modern� dengan mempertahankan kota budaya yang masih mempunyai kesinambungan dengan masa lalu, telah menjadikan realitas permasalahan bagi kawasan kota
Pendekatan perancangan kota yang banyak dilakukan pun jarang mengakomodasi keberagaman struktur sosio-kultural yang telah terbentuk di kawasan tersebut. Para perancang kota lebih sering melihat kota sebagai benda fisik (physical artifact) ketimbang sebagai benda budaya (cultural artifact). Perangkat rencana kota yang ada saat ini, selain masih belum banyak dipakai secara sempurna untuk mengendalikan wujud kota, secara umum pun belum dapat memberikan panduan operasional bagi terbentuknya ruang kota yang akomodatif terhadap fenomena urban, baik situasi dan kondisi serta masyarakat yang menikmatinya. Atau dengan kata lain, masih terdapat adanya kesenjangan antara rencana tata ruang yang bersifat dua dimensi dengan rencana fisik yang bersifat tiga demensi.
Dengan demikian, konservasi/pelestarian bukanlah romantisme masa lalu atau upaya mengawetkan kawasan kota yang bersejarah, namun lebih ditujukan untuk menjadi alat dalam mengolah transformasi melalui pemahaman tentang sejarah perkotaan dan aspek-aspek dalam pelestarian yang dijadikan dasar dalam merancang sebuah kota.

Sejarah Kota dan Kawasan (What is Urban History and Urban Area?)

Kota
adalah wadah dan wajah masyarakat yang akan terus bertahan atau dipertahankan. Rumusan tersebut perlu adanya suatu penegasan, yaitu bahwa: setiap kota pasti mempunyai sejarah; di mana, mengapa dan kapan didirikan, dibangun dan dipertahankan; bagaimana kotakegiatan perencanaan teknis dan non-teknis (simbolis dan nilai budaya).
Sejarah perkotaan (urban history) pada dasarnya merupakan bidang studi internasional yang ingin mencoba menjawab beberapa pertanyaan dasar mengenai nature of our societies, dengan menggunakan pendekatannya yang cenderung multidisiplin, maka dalam sejarah perkotaan tidaklah luar biasa untuk dapat menemukan beberapa ahli di antaranya, adalah ahli sejarah, arsitektur, geografi, perencana, atau kritikus sastra, dan mereka semua dapat dinamakan sebagai ahli sejarah perkotaan. Di sisi lain sejarah perkotaan mempunyai hubungan erat dengan local history, dan studi tersebut difokuskan pada masalah lokal, atau beberapa aspek dari kehidupan di komunitas lokal serta dilakukan dengan sebuah analisa dan penjelasan.
Ada
empat pendekatan dalam bidang sejarah perkotaan yang dapat diidentifikasi: Pertama, secara umum ditekankan pada proses urbanisasi termasuk elemen demografi, struktur atau pendekatan sistem, dan aspek perilaku urbanisasi. Kedua, adalah urban biography merupakan tempat bersejarah yang istimewa, dan berhubungan dengan beberapa segi dari sebuah kota, seperti transportasi, pemerintah kota, perkembangan fisik, masyarakat dan organisasi sosial. Ketiga, memperlakukan beberapa tema, seperti ekonomi, sosial, arsitektur, dan sebagainya dalam konteks sebuah kota. Keempat, cultural studies, merupakan jalan baru dalam �reading� cities, dan memperkenalkan konsep untuk �read� communities.

Belajar dari Sejarah Awal Berkembangnya Perkotaan

Dengan mempelajari sejarah kota, kita akan dapat melihat pengejawantahan pemikiran jujur tentang penataan kota masa lampau, dari tata cara penataannya, sampai pada sumber kehidupan warisan sejarah sebagai tempat beraktivitas. Banyak hal yang dapat dipetik dengan mempelajari sejarah perkotaan dari Majapahit-Kota Indis-Kota Islam dan dari negara lain seperti India-Cina-Jepang, akan dapat memberikan tambahan pemahaman arti sejarah perkotaan yang lebih mendalam.

Tata ruang kota Majapahit

Struktur kekuasaan dari kerajaan Majapahit mempunyai pengaruh besar pada organisasi ruang kotanya, hal ini dapat dilihat dengan adanya: 1. wilayah inti pusat kerajaan Majapahit; 2. wilayah inti sistem candi-candi kerajaan Majapahit; 3. wilayah kantong (enclave) pemujaan arwah nenek moyang; dan 4. wilayah perdesaan kerajaan Majapahit. Di samping itu, perkembangan dari Majapahit secara makro wilayah dipengaruhi arus kecenderungan pertumbuhan, yaitu arus perkembangan kebudayaan Hindhu Jawa; dan perkembangan global di pihak lain. Pada penataan kota Majapahit mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Hindhu-India yang datang ke Jawa melalui medium agama Hindhu-Budha. Dengan demikian, kota Majapahit merupakan perpaduan antara unsur-unsur dua kebudayaan, India dan Jawa. Untuk ciri pola tata ruang kota Majapahit, dapat dilihat adanya: 1. pola ruang berpusat, dengan kawasan inti berpola grid, sedangkan kawasan luar melingkar berpola sirkular; 2. kawasan antara merupakan kawasan transisi, antara dua hierarkhi kawasan, antara dua tingkat masyarakat kota, dan dua jenis pola keruangan kota, terkendali dan organis; 3. keseluruhan kawasan kota merupakan sistem kerungan terbuka, baik secara ekologis, secara sosial, maupun secara kewilayahan yang diwujudkan dalam bentuk kota tanpa dinding fisik; dan 4. pemilihan perpaduan pola keruangan kawasan kota tersebut di atas dapat menjadi strategi keruangan jangka panjang yang adaptif.

Perkembangan awal kota Indis

Kota Indis, muncul pada waktu hadirnya pemerintah kolonial Belanda, mulai abad ke-16. Pada awalnya perkembangannnya, kota ini menjiplak kota-kota asalnya, dalam perkembangannya, seorang ahli perkotaan Peter JM. Nas membedakan kota menjadi empat macam, yaitu di antaranya: kota awal Indonesia; kota Indis; kota kolonial; dan kota modern. Dalam kota Indis diketahui terdapat adanya: a. daerah benteng yang dihuni oleh pejabat-pejabat dan pegawai-pegawai VOC; b. daerah perdagangan yang dihuni oleh orang-orang asing (kebanyakan orang-orang Cina); dan c. Kampung (pada awalnya berada di luar benteng), yang dihuni oleh penduduk pribumi. Kemudian pada perkembangan berikutnya, kota awal Indonesia memiliki struktur yang jelas mencerminkan tatanan kosmologis dengan pola-pola sosial-budaya yang dibedakan dalam dua tipe, yaitu kota-kota pedalaman dengan ciri-ciri tradisional, religius; dankota-kota pantai yang berdasarkan pada kegiatan perdagangan. Ada tiga ciri untuk memahami struktur ruang lingkup sosial kota kolonial, yaitu antara lain: budaya; teknologi, dan struktur kekuasaan kolonial.
Pada kota-kota lama di Jawa sampai abad ke-18 tidak mengalami perkembangan yang berarti, dan kota-kota yang tidak mempunyai fungsi perdagangan, umumnya menjadi kota pusat pemerintah daerah. Bentuk kota kabupaten digambarkan tidak jauh berbeda dengan perdesaan sekitarnya, dan kelompok bangunan di kota-kota lebih rapat satu sama lain, dibanding kelompok perumahan di perdesaan. Untuk kota-kota pantai kuno, kelompok perumahan di kota pusat pemerintahan lebih jarang, bentuk bangunannya masih tradisionil. Elemen pembentuk ruang pada kota tradisional Jawa, antara satu dengan lainnya menggunakan dua prinsip, yaitu di antaranya mikrokosmos dualistis; dan mikrokosmos hirarkhis. (Santoso 1984)

Karakteristik kota Islam

Dengan masuknya Islam, maka pengaruhnya pun juga memberikan ciri atau karakteristik kota Islam, yaitu antara lain: mempunyai benteng; mempunyai kompleks kediaman penguasa (istana; bangunan-bangunan pemerintahan; dan bangunan-bangunan pasukan pengawal); mempunyai civic center (masjid Jamik dengan madrasahnya; dan pasar); mempunyai perkampungan untuk penduduk dengan pengelompokkan (etnis; agama; dan ketrampilan); dan di luar benteng terdapat perkampungan untuk komunitas dengan beberapa (pekerjaan tertentu; dan pemakaman).
Untuk komponen-komponen pokok dari kota Mataram-Islam dan kota yang berkembang di wilayah pantai utara Jawa dapat dikelompokkan: 1. Fungsi tempat tinggal dalam dua komponen: a. kraton beserta alun-alunnya bagi penguasa dan keluarga terdekatnya; dan b. permukiman lain yang terbagi dalam dua macam, yaitu antara lain: dalem bagi golongan bangsawan dan elite birokrat; dan permukiman bagi rakyat non elit; 2. Fungsi keamanan tercermin dalam komponen, yakni benteng baik dalam maupun luar, jagang, dan jaringan jalan; 3. Fungsi ekonomi tercermin dalam keberadaan pasar, jaringan jalan, serta nama tempat yang menunjukkan profesi; 4. Fungsi religi terlihat dalam keberadaan masjid, nama tempat yang menggambarkan profesi keagamaan dan alun-alun; dan 5. Fungsi rekreasi terlihat adanya taman dan krapayak.

Penataan kota di India

Di dalam perencanaan kota dan desa di India waktu itu, salah satunya harus memperhatikan Vastu-purusha mandala baik dengan tatanan 64 maupun 81. Dinding atau tembok kota dibangun sepanjang batas dari mandala; dan jalan di buat dari arah utara-selatan dan timur-barat sepanjang garis padas dari satu padas ke berikutnya. Vastu-purusha mandala: sebagai dasar perencanaan kota Jaipur di India; dan semua jalan berada pada arah longitudinal timur-selatan-timur, dan barat-utara-barat. Swastika, adalah sebagai solar simbol bangsa Aryan kuno, dapat digunakan untuk perencanaan: 1. rumah tinggal; 2. layout tata ruang; 3. perencanaan kota; dan 4. menata sekuen dari jalan. Kheta, yang diperbolehkan untuk bertempat tinggal di wilayah ini hanya kasta Shudra di sini tidak mempunyai pusat; dan sebagai pusat adalah dinding/ tembok kota. Kemudian bentuk sederhana dari perencanaan kotanya haruslah jelas: kasta Brahma, harus bertempat tinggal dan bekerja di wilayah/bagian utara; kasta Kshatriya, di wilayah/bagian timur; kasta Vaishya, di wilayah/bagian selatan; dan kasta Shudra di wilayah/bagian barat. Dengan demikian, konsep dan pedoman penataan kota di India sesuai yang termuat dalam pustaka Manasara Silpasastra atau Kautilya Arthashastra. Di samping itu, mereka juga mempunyai unsur-unsur permukiman atau kompleks pusat kerajaan, antara lain: candi (mandira, devalaya); pasar (apana); jalan dan lorong (vithi); saluran air-selokan; istana raja; perumahan umum; pasar; gapura-pintu gerbang (gopura); tempat persediaan air, sumur; tembok kota; jalan bawah tanah; benteng; dan menara jaga, dan sebagainya.

Awal dari perkembangan kota kuno di Cina

Kota-kota kuno Cina yang berhasil diketemukan dan dapat dijelaskan, bahwa: 1. semua kota di kelilingi dengan dinding/tembok dari tanah; 2. hampir keseluruhan bentuk pola kota adalah empat persegi dan persegi panjang; 3. keseluruhan bangunan digunakan untuk tujuan politik dan keagamaan; dan 4. ciri-ciri yang tetap/konstan adanya wilayah yang spesial menurut prinsip Cina dari segregasi sosial. Pada perencanaan kota Changan, kota di bangun dengan denah dasar simitris, mencakup area panjang 6 mil dari timur-barat dan 5 mil 3 meter dari utara-selatan. Pada bagian dinding-dindingnya mempunyai ketebalan 16 feet dan 22 mil 5 meter panjangnya, dan mempunyai tiga pintu gerbang di utara dan barat, serta delapan di utara. Kota dibagi menjadi lima bagian: a. di utara istana kekaisaran; b. istana; c. di sebelah utara istana kekaisaran di kelilingi dinding/tembok dari tanah; dan d. di selatan dari istana berisi bangunan pemerintahan dan badan-badan lainnya. Di samping hal tersebut di atas, dapat dilihat juga bahwa istana kekaisaran dan bangunan pemerintahan yang berkembang pada waktu itu seluruhnya terpisah dari pasar dan daerah tempat masyarakat bertempat tinggal. bersejarah, karena sebagian dari perjalanan sejarah kawasan yang masih menyimpan sejumlah peninggalan sejarahnya. itu mesti dibangun dan dikembangkan; serta adanya

Perkembangan awal kota di Jepang

Kata machi adalah berasal dari satu blok ladang yang ditanami. Di mana sebuah ibu kota disusun/direncanakan dalam sebuah grid empat persegi panjang. Hal ini juga dimaksudkan bahwa satu blok kota di kelilingi oleh empat jalan, kemudian untuk Jori sistem adalah pembagian tanah untuk ladang yang ditanami padi, sedangkan Jobo sistem adalah sistem untuk pembagian tanahnya.
Tsubo, digunakan sebagai unit dasar dari ukuran tanah di dalam perencanaan kota, dan unit terbesar dari pembagi adalah persegi berjumlah dalam 36 area. Garis dari ri adalah timur-barat, sedangkan jo adalah selatan-utara. Tsubo di kelilingi oleh empat jalan yang sempit dan unit pembagi terbesar bo, di kelilingi oleh empat jalan lebar dinamakan oji. Denah dari kota terdiri dari delapan bo timur-barat, dan sembilan bo selatan-utara, untuk jalan utama yang di tengah, yang berjalan dari gerbang utama ke halaman istana adalah merupakan bagian pemerintahan, di dalamnya termasuk istana kekaisaran dan dinamakan Sujaku-oji. Jalan ini membagi kota ke dalam bagian yang sama, separuh dari kiri dari bagian kota dinamakan Sakyo, separuh sebelah kanan dari bagian kota di sebelah barat, dan Ukyo separuh sebelah kanan dari bagian kota di sebelah timur. Bo adalah menomori di sebelah luar dari pusat jalan, bo pertama, bo kedua, bo ketiga, dan bo keempat ke timur dan barat. Untuk menetapkan posisi arah di sebelah utara-selatan, garis dari empat bo dinamakan jo, dimulai dengan jo pertama di utara, sampai jo kesembilan di selatan. Karena itu, metode penamaan disebut sebagai pola dan perencanaan kota sistem jobo. Empat persegi panjang bo adalah membagi lagi oleh persilangan yang sempit ke dalam empat blok bujur yang serupa, dan sebagai akibatnya adalah dimungkinkan untuk menata setiap rumah menghadap matahari dan dengan halaman tamannya.

Konservasi Perkotaan
Pemahaman tentang konservasi

Jika kita ingin bergerak untuk menyelesaikan masalah pelestarian, ada tiga pertanyaan kunci yang harus diajukan: (1) Apa yang ingin kita lestarikan? (Bangunan?, Karakter kota?, Kehidupan?); (2) Mengapa kita ingin melestarikan? (Karena aspek-aspek tersebut merupakan bagian dari warisan kota?, Untuk meningkatkan lingkungan dan penduduk?, Untuk menarik uang dari wisatawan?); dan (3) Untuk siapa kita lakukan pelestarian? (Pengguna saat ini?, Keseluruhan negara?, Warisan umat manusia?).
Ada
beberapa pemahaman dan pengertian mengenai conservation (konservasi), adalah tindakan untuk memelihara sebanyak mungkin secara utuh dari bangunan bersejarah yang ada, salah satunya dengan cara perbaikan tradisional, dengan sambungan baja, dan atau dengan bahan-bahan sintetis. Pendapat lain mengenai konservasi: adalah, upaya untuk melestarikan bangunan, mengefisienkan penggunaan dan mengatur arah perkembangan di masa mendatang. Dari Piagam Burra, pengertian konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dan dapat pula mencakup: preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi dan revitalisasi.
Untuk itu, alangkah baiknya kalau kegiatan konservasi/preservasi pun haruslah dapat memberikan manfaat yang tidak sedikit terhadap kota dan komponen-komponen yang ada di dalamnya. Manfaat tersebut antara lain sebagai atraksi yang menarik bagi wisatawan mancanegara, merupakan media untuk mempelajari perkembangan arsitektur dan kota, dan sebagai wadah pembelajaran sejarah kota bagi masyarakat. Usaha-usaha untuk preservasi akan memberikan manfaat praktis bila manfaat kegiatan tersebut, adalah sebagai berikut: 1. preservasi lingkungan/kawasan lama akan memperkaya pengalaman visual, menyalurkan hasrat kesinambungan, memberikan tautan bermakna dengan masa lampau, dan memberikan pilihan untuk tetap tinggal dan bekerja di dalam bangunan maupun lingkungan/kawasan lama; 2. di tengah perubahan dan pertumbuhan yang pesat sekarang ini, lingkungan/kawasan lama akan menawarkan suasana permanen yang menyegarkan; 3. untuk mempertahankan bagian kota akan membantu hadirnya sense of place, identitas diri dan suasana kontras; 4. kota dan lingkungan/kawasan lama adalah satu aset terbesar dalam industri wisata, sehingga perlu dipreservasi; 5. salah satu upaya generasi masa kini untuk dapat melindungi dan menyampaikan warisan berharga kepada generasi mendatang; 6. membuka kemungkinan bagi setiap manusia untuk memperoleh kenyamanan psikologis dan merasakan bukti fisik suatu tempat di dalam tradisinya; dan 7. membantu terpeliharanya warisan arsitektur, yang dapat menjadi catatan sejarah masa lampau.
Dalam konteks pembangunan kota, tindakan untuk melestarikan warisan budaya perkotaan (urban heritage) diperlukan adanya motivasi. Motivasi tersebut antara lain adalah: 1. motivasi untuk mempertahankan warisan budaya atau warisan sejarah; 2. motivasi untuk menjamin terwujudnya atau terpeliharanya tata ruang kota yang khas; 3. motivasi untuk mewujudkan adanya suatu identitas tertentu yang dikaitkan dengan kelompok masyarakat tertentu yang pernah menjadi bagian dari kota; dan 4. motivasi ekonomi, suatu bentuk peninggalan tertentu yang dianggap memiliki nilai atau daya tarik dan perlu dipertahankan sebagai modal lingkungan/kawasan.

Konservasi dalam lingkup bangunan dan lingkungan:

Konservasi atau pelestarian dalam bidang arsitektur dan lingkungan binaan, mula-mula berawal dari konsep preservasi yang bersifat statis, kemudian dari konsep yang statis tersebut berkembang menjadi konsep konservasi yang bersifat dinamis dengan cakupan yang lebih luas lagi. Sasarannya tidak terbatas pada objek arkeologis saja, melainkan meliputi juga karya arsitektur lingkungan dan kawasan, dan bahkan kota bersejarah dan pada akhirnya, konservasi menjadi payung dari segenap kegiatan pelestarian lingkungan binaan yang mencakup preservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, adaptasi, dan revitalisasi. Tujuan dari itu semua adalah untuk memelihara bangunan atau lingkungan sedemikian rupa, sehingga makna kulturalnya yang berupa: nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau nilai sosial untuk generasi lampau, masa kini dan masa datang akan dapat terpelihara.

Apa yang dimaksud dengan konservasi area?
(What is a Conservation Area?)
Konservasi area sebenarnya dapat meliputi beberapa hal, seperti perdesaan (rural), perkotaan (urban), arkeologi (archeology), atau natural area yang mempunyai kualitas spesial, dan patut untuk dilindungi. Konservasi area direncanakan/ditentukan berdasarkan beberapa alasan:

1. untuk melindungi lingkungan atau konteks dari kelompok elemen-elemen kultural, bersejarah (historical), estetik (aesthetic) atau nilai keilmuan (scientific value);

2. untuk menuntun dan mengatur perkembangan baru;

3. untuk mengurangi atau mengeliminasi ancaman yang spesifik seperti, pengembangan skala-besar, jalan-jalan, penzoningan kembali atau tekanan perkembangan;

4. untuk memberi insentif pengembangan dengan perlindungan bagi benda-benda yang mempunyai nilai dan menetapkan kriteria desainnya;

5. untuk mendapatkan pengakuan pada sebuah area dan mempromosikan nilai-nilainya; atau

6. untuk melindungi lingkungan, atau dilihat dari pandangan national monument.

Kemudian bagaimana dengan pemahaman arti area itu sendiri? Penentuan dari konservasi area tersebut diartikan bahwa kualitas yang spesial dari area itu dilindungi dan pengembangannya layak untuk diberikan. Pemilik, pengembang, arsitek, perencana, dan pemerintah yang berwenang akan menjaga bahwa pengembangan area itu sangat sensitif, dan bahwa perubahan tidak akan menghancurkan kualitas spesial yang diberikan sebagai makna budaya, dengan demikian konservasi area dapat diidentifikasi setelah survei komprehensif dan analisis kualitas pada area itu dilakukan.

Konsep Konservasi

Konsep awal dari pelestarian adalah konservasi, yaitu pengawetan benda-benda monumen dan sejarah (lazimnya dikenal sebagi preservasi), dan akhirnya hal itu berkembang pada lingkungan perkotaan yang memiliki nilai sejarah serta kelangkaan yang menjadi dasar bagi suatu tindakan konservasi. Pada dasarnya, makna suatu konservasi dan preservasi tidak dapat terlepas dari makna budaya (Kerr, 1992). Untuk itu, konservasi merupakan upaya memelihara suatu tempat berupa lahan, kawasan, gedung maupun kelompok gedung termasuk lingkungannya (Danisworo, 1991). Di samping itu, tempat yang dikonservasi akan menampilkan makna dari sisi sejarah, budaya, tradisi, keindahan, sosial, ekonomi, fungsional, iklim maupun fisik (Danisworo, 1992). Dalam perencanaan suatu lingkungan kota, unit dari konservasi dapat berupa sub bagian wilayah kota bahkan keseluruhan kota sebagai sistem kehidupan yang memang memiliki ciri atau nilai khas. Dengan demikian, Peranan konservasi bagi suatu kota bukan semata bersifat fisik, namun mencakup upaya mencegah perubahan sosial.
Konsep yang dirumuskan untuk melakukan pekerjaan konservasi hendaklah disusun dalam suatu rencana (conservation plan) berdasarkan: 1. Penetapan objek konservasi, suatu upaya pemahaman dalam menilai aspek budaya suatu objek dengan tolok ukur estetika, kesejarahan, keilmuan, kapasitas demonstratif serta hubungan asosiasional; dan 2. Perumusan kebijakan konservasi suatu upaya merumuskan informasi tentang nilai-nilai yang perlu dilestarikan untuk kemudian dijadikan sebagai landasan penyusunan strategi pelaksanaan konservasi.
Konservasi merupakan bagian integral dari perancangan kota, menurut Sirvani (1985), meliputi rumusan kebijakan, rencana, pedoman, dan program. Dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Kebijakan Perancangan Kota, merupakan kerangka strategi pelaksanaan yang bersifat spesifik. 2. Rencana Perancangan Kota, merupakan produk penting dalam perancangan kota yang berorientasi pada produk maupun proses; 3. Pedoman Perancangan Kota, dapat berupa pengendalian ketinggian bangunan, bahan, setback, proporsi, gaya arsitektur, dan sebagainya; dan 4. Program Perancangan Kota, biasanya mengacu pada proses pelaksanaan atau pada seluruh proses perancangan. Menurut Shirvani (1985), menggunakan terminologi tersebut untuk mengacu pada aspek perencanaan dan perancangan yang dapat memelihara dan melestarikan lingkungan yang telah ada maupun yang hendak diciptakan. Dengan demikian diharapkan akan didapatkan: a. Kegiatan konservasi dan preservasi -sebagai bagian dari pelestarian- merupakan usaha meningkatkan kembali kehidupan lingkungan kota tanpa meninggalkan makna kultural maupun nilai sosial dan ekonomi kita; b. Arahan konservasi suatu kawasan berskala lingkungan maupun bangunan, perlu dilandasi motivasi budaya, aspek estetis, dan pertimbangan segi ekonomi; dan c. Preservasi dan konservasi yang mengejawantahkan simbolisme, identitas suatu kelompok ataupun aset kota, perlu dilancarkan.
Pada bagian lain, sasaran konservasi perlu dirumuskan secara tepat di antaranya (Budihardjo, 1989): - Mengembalikan wajah objek konservasi; - Memanfaatkan objek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini; - Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu yang tercermin dalam objek pelestarian; dan - Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota dalam wujud fisik tiga dimensi. Akan tetapi dalam penjabaran konsep di atas, perlu dirumuskan: - Tolok ukur, kriteria, dan motivasi dari konservasi; dan - Bagian-bagian bangunan atau tempat yang akan dikonservasi, atau bagian kota yang akan dilestarikan.
Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam proses penentuan konservasi adalah sebagai berikut: a. Kriteria Arsitektural, suatu kota atau kawasan yang akan dipreservasikan atau dikonservasikan memiliki kriteria kualitas arsitektur yang tinggi, di samping memiliki proses pembentukan waktu yang lama atau keteraturan dan keanggunan (elegance); b. Kriteria Historis, kawasan yang akan dikonservasikan memiliki nilai historis dan kelangkaan yang memberikan inspirasi dan referensi bagi kehadiran bangunan baru, meningkatkan vitalitas bahkan menghidupkan kembali keberadaannya yang memudar; c. Kriteria Simbolis, kawasan yang memiliki makna simbolis paling efektif bagi pembentukan citra suatu kota.
Kategori mempertimbangkan objek yang akan dikonservasi dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. Nilai (value) dari objek, mencakup nilai estetik yang didasarkan pada kualitas bentuk maupun detailnya. Suatu objek yang unik dan karya yang mewakili gaya zaman tertentu, dapat digunakan sebagai contoh, suatu objek konservasi; 2. Fungsi objek dalam lingkungan kota, berkaitan dengan kualitas lingkungan secara menyeluruh. Objek merupakan bagian dari kawasan bersejarah dan sangat berharga bagi kota. Objek juga merupakan landmark yang memperkuat karakter kota yang memiliki keterkaitan emosional dengan warga setempat; dan 3. Fungsi lingkungan dan budaya, penetapan kriteria konservasi tidak terlepas dari keunikan pola hidup suatu lingkungan sosial tertentu yang memiliki tradisi kuat, karena suatu objek akan berkaitan erat dengan fase perkembangan wujud budaya tersebut.

Revitalisasi Kawasan Kota

Salah satu kegiatan dari konservasi adalah revitalisasi atau upaya untuk mendaur-ulang (recycle) yang tujuannya untuk memberikan vitalitas baru, dan meningkatkan vitalitas yang ada atau bahkan menghidupkan kembali vitalitas (re-vita-lisasi) yang pada awalnya pernah ada namun telah memudar. Kegiatan revitalisasi muncul karena adanya permasalahan yang muncul sejalan dengan perkembangan kota yang begitu cepat dan membawa perubahan yang cukup drastis. Perubahan tersebut seringkali mengakibatkan timbulnya masalah yang pembenahannya seringkali memaksa kota untuk mengabaikan pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan program peremajaan kota, penggusuran permukiman kumuh yang dilakukan dengan alasan demi keindahan kota, perubahan tatanan perdagangan tradisional menjadi tatanan modern, penghancuran bangunan-bangunan lama dan diganti dengan bangunan baru dengan dalih tidak memberikan kontribusi ekonomi bagi daerah. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup akan tetapi kemudian mengalami kemunduran/degradasi. Skala upaya revitalisasi biasa terjadi pada tingkat mikro kota, seperti sebuah jalan, atau bahkan skala bangunan, akan tetapi juga bias mencakup kawasan kota yang yang lebih luas.
Revitalisasi kawasan diarahkan untuk memberdayakan daerah dalam usaha menghidupkan kembali aktivitas perkotaan dan vitalitas kawasan untuk mewujudkan kawasan yang layak huni (livable), mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta terintegrasi dalam kesatuan sistem kota. Karakteristik dari kawasan yang membutuhkan revitalisasi, adalah kawasan mati (tidak berkembang lagi), kawasan yang perkembangannya melesat dari arah semula, dan kawasan-kawasan yang �ditinggalkan�. Sejarah perkembangan kota di Barat mencatat bahwa memang kegiatan revitalisasi ini diawali dengan pemaknaan kembali daerah pusat kota setelah periode tahun 1960-an. Bahkan ketika isu pelestarian di dunia Barat meningkat pada periode pertengahan tahun 1970-an, kawasan (pusat) kota tua menjadi fokus kegiatan revitalisasi.
Dilihat dari pengertian di atas, maka revitalisasi dapat menjadi alternatif dalam memecahkan masalah pelestarian wajah kota lama, dan kebutuhan ruang teratasi dengan meminimalisasikan pudarnya eksistensi kota lama. Pada dasarnya proses revitalisasi kota terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut: intervensi fisik; rehabilitasi ekonomi; dan revitalisasi sosial/institusional. Revitalisasi adalah salah satu pendekatan dalam meningkatkan vitalitas suatu kawasan kota yang bias berupa penataan kembali pemanfaatan lahan dan bangunan, renovasi kawasan maupun bangunan-bangunan yang ada, sehingga dapat ditingkatkan dan dikembangkan nilai ekonomis dan sosialnya, rehabilitasi kualitas lingkungan hidup, peningkatan intensitas pemanfaatan lahan dan bangunannya (Sujarto dalam Farma, 2002:23).
Oleh karena itu, revitalisasi kawasan kota dapat juga disebut sebagai konsep pelestarian yang terintegrasi dengan �wajah� kota lama akan tetap terpelihara, aktivitas saat ini dapat tertampung dan dapat memberikan keuntungan ekonomi. Proses ini memerlukan dukungan dan peran aktif masyarakat, sehingga segala usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat tidak dipatahkan lagi oleh masyarakat. Disamping hal itu, pemerintah diharapkan dapat bertindak dengan lebih tegas, yaitu dengan memperjelas konsep-konsep konservasi kotanya, mempunyai produk-produk berkekuatan hukum, menindak oknum-oknum yang melanggar, serta mampu memotivasi partisipasi masyarakat.

Mengapa Warisan Budaya? (Why heritage?)

Adanya pengakuan bahwa warisan budaya (cultural heritage) yang di dalamnya terdapat konservasi, adalah merupakan bagian dari tanggungjawab seluruh tingkatan pemerintahan, dan anggota masyarakat, sedangkan heritage itu sendiri, adalah bukan sekedar mendata masa lampau, tetapi merupakan bagian integral dari identitas perkotaan saat ini dan masa mendatang. Warisan budaya sebuah kota dapat dilihat dalam tiga bagian faktor:

- Social factors, termasuk di dalamnya menambah citra dan identitas kota, integrasi ke dalam kehidupan sehari-hari, dan pengembangan sistem nilai dari masyarakat.

- Politico-economic, menyertakan peran dari heritage pada pariwisata, dan kepentingan arkeologi dan kesejarahan.

- Planning factors, terutama dipergunakan pada architectural heritage, redevelopmen dan regenerasi objek heritage untuk dipreservasi serta integrasinya ke dalam proses pengembangan yang lebih besar pada kota secara keseluruhan.
Untuk meletakkan isu dari heritage conservation dengan melihat seluruh proses dari pengembangan kota, baik itu berhubungan dengan isu yang lain, seperti pengembangan wisata, revitalisasi dari ekonomi daerah dan pemerintah daerah.

Beberapa contoh dari kota-kota yang telah melakukan heritage conservation
Kathmandu: It�s the People�s Heritage (Participation and Awareness-Building)

- Penanggungjawab adalah pemerintah daerah Kathmandu Municipal Corporation (KMC) yang merealisasikan keinginan untuk mengintegrasikan konservasi warisan budaya ke dalam proses yang lebih luas dari komunitas dan partisipasi masyarakat.

- Keterlibatan komunitas sangat penting untuk keberhasilan dari beberapa langkah heritage, dan implikasinya untuk kebanggaan masyarakat dan citra kota.

- Preservasi warisan budaya secara langsung berhubungan dengan ekonomi kota, dan pariwisata menjadi aktivitas yang utama.

- KMC mendirikan Heritage and Tourism Department tahun 1977. Mengembangkan beberapa strategi heritage conservation di antaranya: program pendidikan dan kesadaran untuk publik; heritage tour untuk anak-anak sekolah, media radio dan televisi; partisipasi masyarakat; kerjasama publik-privat; dan financial incentives.

Penang: Preserving for the Future (Institutional and Policy Environment)

- kehidupan kota dengan arsitektur tradisional yang utuh, streetscape dan aktivitas sosio-ekonomi �menjaga nilai jual sebagai �produk wisata�.

- untuk mengembangkan dan menjaga identitas urban yang unik, kota difokuskan dengan memperhubungkan perencanaan fisik, kerangka kebijakan, dan master plan untuk menciptakan wilayah urban yang berkelanjutan dan dipertahankan untuk generasi mendatang.

- inisiatif program dan studi yang mengkombinasikan konservasi dengan tujuan luas dari local sustainability.

- mempersatukannya ke dalam rencana dan projek pariwisata, pada dasarnya menambah nilai ekonomi daerah, tetapi lebih untuk masa mendatang.

- inisiatif ekonomi yang berkelanjutan dijamin oleh kerjasama dengan sektor privat dalam bangunan potensi wisata untuk pengunjung dan penduduk setempat.

Manila: Getting the Framework Right (Documentation and Preservation)

- Untuk Pilipina, Intramuros (berarti, di kelilingi dinding) merepresentasikan permulaan dari pendataan sejarah mengenai perkembangan perkotaan (urban development).

- Usaha dalam restorasi dan redevelopmen dari Intramuros dimulai tahun 1965 untuk mencegah kerugian selanjutnya dan menggabungankan ke dalam mainstream dari urban development.

- Usaha dari preservasi Intramuros dilakukan dengan memisahkan urban planning dan biro pengembang bagi kawasan bersejarah. Intramuros Administration (IA) adalah bertanggungjawab untuk redevelopmen dan restorasi.

- Tindakan lain juga telah dilakukan, mengklasifikasi Intramuros sebagai �cultural zone�, merencanakan master plan kawasan yang terintegrasi, menghapus tata guna tanah yang tak sesuai, petunjuk perancangan dan peraturan urban streetscape untuk pengembangan mendatang, restorasi bangunan bersejarah, dan sebagainya.


Urban Conservation: The Case of Imai-cho, Japan
Dentoteki Kenzobutsu Gun Hozon Chiki
atau preservasi untuk kolompok bangunan bersejarah � Den Ken Chiki � adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Jepang, di bawah badan perlindungan benda cagar budaya. Istilah �preservasi�, mencerminkan pandangan statis dari pekerjaan pemerintah terhadap bangunan kuno dan kawasan bersejarah, sedangkan Den Ken Chiki, lebih dinamis secara alami, dengan konservasi kawasan bersejarah meliputi di dalamnya preservasi, restorasi, rekonstruksi dan penataan ulang, pertimbangan ekonomi, sosio-kultural, aspek hukum dan administratif. Perlu untuk diketahui, bahwa di kawasan tersebut, lebih dari 80% rumah tinggalnya sampai saat ini masih bertahan, yang rata-rata dibangun pada era Edo (1596 ~1868).

Konservasi dan pembangunan berkelanjutan di kota bersejarah Vigan

Kota Vigan merupakan kota yang terletak di Propinsi Ilocos Sur, Filipina, yang memiliki banyak bangunan bersejarah, yang terdiri dari 180 buah gedung pemerintahan dan rumah ibadah, gudang, taman, yang memiliki arsitektur abad ke-18 dan ke-19, yang merupakan percampuran antara arsitektur Spanyol, Mexico, Cina, dan arsitektur lokal. Penataan Kota Vigan memiliki ciri tata kota Hispanic. Peninggalan-peninggalan tersebut dapat bertahan dari kerusakan, yang antara lain disebabkan oleh alam, perang dunia dan kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1950 hingga 1970 yang menghancurkan banyak bangunan bersejarah. Kebudayaan yang dilestarikan juga termasuk industri tradisional, seperti pembuatan guci, batu bata dan ubin, perabotan kayu, garam, maguey rope, tukang besi, pemotong batu, dan hand-woven abel fabrics.
Untuk melindungi warisan budaya sejarah Kota Vigan, maka dilakukan upaya preservasi dan konservasi. Pada awalnya (awal tahun 1990-an), usaha pelestarian ini banyak mendapat halangan dari pemerintah lokal dan para pengusaha, untuk mendukung hal tersebut UNESCO memberikan solusi preservasi dan konservasi Kota Vigan, sehingga dapat merubah seluruh kultur masyarakat untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Untuk mendukung kegiatan preservasi dan konservasi, para stakeholder lokal perlu meninjau kembali arah pembangunan daerahnya untuk di arahkan ke budaya, yang antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut: menarik para wisatawan, pemanfaatan kembali bangunan-bangunan kuno untuk berbagai macam kegiatan (museum, toko, penginapan, kantor, rumah makan, dan sebagainya), revitalisasi seni dan kerajinan tradisional, perbaikan dan pembangunan kembali bangunan untuk melestarikan budaya, mengembalikan keaslian di daerah pusat pelestarian pusat pelestarian (historic core), dan merehabilitasi jalur sungai kuno di sekeliling Kota Vigan untuk menghidupkan kembali industri di sekitar sungai dan mendukung kegiatan pariwisata. Pada kegiatan preservasi dan konservasi akan selalu berkoordinasi dengan badan-badan yang terlibat dalam kegiatan ini, seperti badan internasional, nasional, dan lokal.

Penutup

Menampilkan kembali atau mempertahankan ruang kota masa lalu berarti memperhatikan elemen-elemen jalan (street-furniture) dan pembentuk ruangnya, baik tata hijau (soft-landscape) maupun perkerasannya (hard-landscape). Banyak contoh kota di dunia yang sudah membagi area/kawasan mana yang perlu dipreservasi dan mana yang tidak. Ke arah mana preservasi kawasan tersebut berjalan, perangkat apa saja yang dibutuhkan, jadi pelestarian bukanlah ceritera masa lalu, atau upaya untuk mengawetkan suatu kawasan bersejarah, namun lebih ditujukan sebagai alat dalam mengolah transformasi kawasan. Upaya tersebut merupakan langkah yang bertujuan untuk memberikan kualitas kehidupan bagi masyarakat agar lebih baik, dan berdasarkan pada kekuatan-kekuatan aset sejarah lama yang terdapat di kawasannya. Hal ini sebaiknya dititikberatkan pada upaya pemanfaatan yang kreatif melalui pelaksanaan program partisipasi melalui kegiatan ekonomi dan budaya kawasan. Untuk itu, perancangan kota harus menjadi perangkat pengarah dan pengendalian untuk mewujudkan lingkungan binaan yang akomodatif terhadap tuntutan kebutuhan dan fungsi baru. Dengan demikian, tanggung jawab terhadap pelestarian kota adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan tanggung jawab sektoral, multi dimensi, dan disiplin, serta berkelanjutan (sustainable).

Sumber Acuan

Tjandrasasmita, U. 2000. Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim di Indonesia Dari Abad XIII sampai XVIII Masehi, Kudus: Menara Kudus.

Adrisiyanti, I. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam, Jendela: Yogyakarta.

Budihardjo, E. 1997. Arsitektur Pembangunan dan Konservasi, Jakarta: Djambatan.

Danisworo, M. 1996. Penataan Kembali Pusat Kota, Suatu Analisis Proses, Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, VII (22): 70-76.

Farma, A.S. 2002. Strategi Perancangan dalam Meningkatkan Vitalitas Kawasan Perdagangan Johar Semarang. Tesis, Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota � Bidang Rancang Kota, Bandung: ITB.

Pontoh, N.K. 1992. Preservasi dan Konservasi Suatu Tinjauan Teori perancangan, Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, IV (6): 34-39.

Srinivas, H. 1999. Prioritizing Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region: Role of City Governments, Urban Heritage and Conservation, pp. 1-4.

Srinivas, H. 1999. Mediation for Urban Conservation: The Case of Imai-cho, Japan, Urban Heritage and Conservation, pp. 1-4.

Stelter, G.A. 1996. Introduction to the Study of Urban History, Part I General Concept and Sources, University of Guelph 49 -464 Reading a Community, pp. 1-7.

Makalah ini telah disampaikan pada STADIUM GENERAL �Perancangan Kota Untuk Kota Kecil� Jurusan Teknik Planologi Institut Teknologi Nasional, Malang 21 Juni 2004.

Copyright � 2008 by antariksa