Antariksa
MUNGKIN ini hanyalah sekedar contoh dari suatu masyarakat yang boleh dibilang sebagai masyarakat berkemampuan reflektif untuk mempertanyakan identitasnya, �sangkan parannya�. Sementara kelompok masyarakat lain barangkali belum lagi merasakan krisis tersebut secara reflektif, misalnya kelompok remaja yang berturut-turut demam, �flash dance�, �break dance�, atau kelompok mapan lain yang gemar makan �steak� atau �kentucky fried chicken�. Pada masa ini pula orang mempertanyakan tentang manusia Indonesia seutuhnya.
Bagaimanapun juga manusia tidak akan pernah lepas dari apa yang dinamakan �arsitektur�, baik pengaruh yang bernilai fisis maupun psikis. Karena manusia di samping memerlukan kebutuhan tempat berlindung terhadap faktor-faktor fisis, juga memerlukan tempat kehidupan yang mampu menimbulkan rangsangan emosional bersumber pada kebutuhan psikis. Di dalamnya terkandung kemampuan menampung kegiatan dan aspirasi manusia, pada dasarnya arsitektur tidak hanya menyangkut masalah bentuk, tetapi nilai luhur dn filosofi yang ada di dalam bentuk tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Eugene Ruskin, �Architecture mirrors the various aspects of our lives, social, economic spiritual�. Demikian juga ruang, sangat berpengaruh terhadap manusia tempat kegiatan yang diwadahinya berikut persepsi akan memberikan bobot derajat pengalaman manusia yang diperoleh dalam karya arsitektur tersebut.
Perlu kita renungi, arsitek yang sedang mencari identitas pribadinya, seperti satria yang teguh tapanya mencari �jati diri�, demikian pula kita dengar berbagai lembaga melakukan upaya untuk menterjemahkan strategi pembangunan yang beridentitas ke dalam suatu tindakan yang nyata. Terkadang arsitek ditantang untuk bisa mengembangkan arsitektur yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat masa kini. Baik kebutuhan akan perlindungan, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan lingkungan akrab dn kebutuhan akan harga diri.
Pemandangan arsitektur menjadi kabur dan arsitek kehilangan identitas dirinya. Mungkin secara fungsionalis arsitek menjadi pribadi, bila ia terbuka untuk masyarakat luas. Segala upaya dalam merencanakan bangunan yang mempunyai nilai arsitektur dirintis dan dibuka, sehingga terbentanglah berbagai macam kemungkinan baru. Namun ini semua lalu tersumbat alternatif bentuk arsitektur masa kini, semakin jauh dari pandangan kita. Sejauh mana arsitektur modern menjawab keinginan manusia akan hasrat religius yng terpendam jauh dilubuk hatinya? Arsitek dan masyarakat memudar dalam perbuatan, dimana keotentikan krya arsitektur tersebut harus bisa mencerminkan identitasnya.
Paul Rudolph membuat kita agak tercengang ketika mencoba mengungkapkan konsep arsitektur tropis dengan Wisma Dharmalanya, atau suatu ungkapan tradisonal dalam Bandara Soekarno-Hatta, yang dikerjakan oleh seorang arsitek Prancis Thomas T. Woods. Justru mereka oarang-orang �monco negoro� dengan hati yang keras selalu ingin mengembangkan dan tentu saja mengutarakan nilai-nilai budaya yang kita miliki. Lalu bagaimana dengan kita-kita ini?
Usaha untuk mencari arsitektur yang beridentitas sangat penting bagi tegaknya arsitektur di Indonesia, kita mempunyai persepsi dan keanekaragaman di pelbagai kultur, sehingga bisa memberikan gema tersendiri dalam kenyataan fisik karya arsitektur tersebut. Untuk memakainya perlu pengetahuan tentang arsitektur tradisional, meskipun berat dan banyak tantangannya. Dewasa ini kecenderungan untuk menggali arsitektur tradisional memang besar. Pada prinsipnya arsitektur tradisional di sini tidak kaku dan mati, tapi merupakan kebjaksanaan yang mengalir dari masa ke masa, dari generasi ke generasi.
Arsitektur adalah merupakan satu unsur kebudayaan, dan di Indonesia kebudayaan tidak menunjukkan suatu kesatuan yang homogen, tapi menunjukkan keanekaragaman yang sifatnya regional. Nilai-nilai simbolik mempunyai makna yang bertolak dari suatu pandangan hidup tertentu. Penggunaan bentuk-bentuk arsitektur tradisional tanpa memahami nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, terasa sangat sukar untuk membuahkan karya arsitektur yang mampu memikul identitasnya. Identitas tidak terpaku pada masalah bentuk ataupun langgam gaya tertentu, tetapi bagaimana mewujudkan diri sebagai karya kolektif yang dapat mencerminkan citra manusia yang luhur.
Tradisional
Jika arsitektur mendapat kembali kredibilitasnya di antara arsitek dan masyarakat, maka dua perbedaan pasti akan terjadi antara profesi dan pemberian tugas tertentu. Seharusnya arsitek sadar bagaimana harus berbuat, mampu berkomunikasi dan dapat dicerna oleh masyarakat luas beserta lingkungan budayanya, sedangkan kehadirannya tidak merupakan makhluk asing dalam lingkungannya.
Pernyataan sasaran tentang hubungan bangunan dengan fenomena lainnya yang diinginkan, mewujudkan dua pokok sentral yang sepintas lalu mencerminkan suatu dilema yang berulng kembali dalam arsitektur. Salah satu pandangan adalah, bahwa arsitektur pada hakekatnya merupakan suatu bidang teknik. Berarti penggunaan bahan-bahan dan metode konstruksi yang disesuaikan dengan iklim wilayah tertentu.
Pembentukan identitas arsitektur nantinya tidak dapat lepas dari asal usul dimasa lampau, yaitu arsitektur tradisional. Bukan lagi karya pribadi yang dapat berdiri sendiri, tetapi suatu karya yang hadir secara kolektif di atas bumi nusantara ini. Identitas merupakan penampilan dari upaya pengembangan diri serta penyesuaian diri manusia terhadap lingkungan yang selalu berubah. Arsitektur yang mempunyai identitas secara strategis membuka aspek-aspek yang rumit dalam dirinya, baik segala tata nilai, tingkah laku maupun wujud. Untuk mengembangkan identitas diperlukan kreativitas, ketrampilan, kebranian, kejujuran, kecerdasan, dan kepribadian tentunya.
Konsep Sosial
Pandangan lainnya adalah, bahwa maksud utama arsitektur adalah sosial, ini merupakan suatu latar belakang dan sistem penunjang untuk meningkatkan proses kehidupan yang terus berlangsung.
Arsitek sebaiknya tidak usah bicara muluk-muluk kalau di sekitar kita masih ada kelaparan, pengangguran dan kemiskinan. Dengan suara sinis, Clovis Heimsath dalam bukunya (�Behavioural Architecture�) mengatakan, �Why Do You Architects Talking About Design? Poor People Need Jobs; They Couldn�y Care Less About Where They Live if They are Unemployed and Hungry�. Di sini letak konsep sosial yang sebetulnya terkandung cukup dalam, secara strategis identitas dapat berhasil, dengan memperhatikan kondisi sosial.
Di sisi lain, himbauan demi himbauan menggema menjadi satu, berasal dari yang sadar akan akibat negatif majunya perkembangan teknologi terhadap pribadi manusia. Konsekuensinya mengenai langsung hakekat manusia dan hubungannya dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Hasil kerja para arsitek memang dihargai dan tidak ditentang, tetapi arahnya yang secara bertahap menggerogoti segala kebudayaan asli yang telah dianugerahkan kepada kita, itulah yang menjadi soal. Diharapkan �pepadhang� datang bila kita bisa merenungi lebih dalam lagi �arsitektur�, kemudian mencoba merenungi makna kehidupan mencari �jati diri�. Dari sinilah identitas arsitektur dapat berhasil dengan cara bertahap. Kita bisa belajar dari �padepokan� nya YB. Mangunwijaya dipinggir kali Code Yogyakarta, meskipun dibuat dari bahan kayu bambu yang murah dan sederhana, tetapi manfaatnya cukup besar, karena dapat mengembalikan martabat manusia (khususnya anak-anak) yang kemungkinan karena lingkungannya sudah terperosok ke jurang yang tidak kalah ngerinya dengan narkotika.
Rupanya masa silam tetap mengandung benih bagi hari depan, dengan lain perkataan, tanpa masa silam karya arsitektur masa kini tidak akan meninggalkan bekasnya untuk hari depan.
Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia tanggal 26 September 1985
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar