Antariksa
Perkembangan arsitektur sudah sedemikian rupa mengimbas kesegala pelosok daerah di Indonesia. Perubahan terjadi pada banyak bangunan (rumah tinggal) yang terdapat di kota-kota besar maupun di perdesaan. Menyerapnya informasi serta perkembangan industri, teknologi, dan perdagangan telah merubah mereka menjadi masyarakat penikmat, dan pemakai hasil arsitektur. Di mana masyarakat awam sendiri hanya mengikuti apa yang terjadi, tidak tahu menahu tentang asl usul bentuk arsitektur rumahnya, bahkan juga konsep serta ide-ide dasarnya. Masalah utama yang dihadapi adalah beragamnya pemberian makna pada arsitektur baik langgam ataupun style dengan istilah-istilah seperti �tradisional�, �ciri-khas daerah�, �arsitektur Jawa� dan lain sebagainya. Dengan mengambil dasar iklim tropis pada bentuk deainnya, namun tidak membuahkan hasil sempurna. Yang akhirnya memicu adanya simbol-simbol, seperti atap joglo atau arsitektur Jawa (yang seperti apa?). Ternyata penggunaan atap joglo di sini digunakan sebagai ungkapan simbol saja, tidak mencerminkan makna bagi penghuninya. Terkadang mereka hanya mengambil bentuk atapnya bukan ruang dalam serta struktur bangunannya. Pada hal joglo itu dibangun pada waktu lampau dimaksud agar ruang tersebut dapat menampung banyak orang, digunakan oleh para penguasa untuk bertatap muka dengan rakyatnya, dan dimiliki oleh kaum kebanyakan. Kecenderungan sekarang justru lain, adanya satu keinginan dari mereka agar istilah �ciri-khas daerah� atau �arsitektur Jawa� melekat pada bangunan mereka meskipun perilaku dan tatanan budayanya tidak mencerminkan sebagai orang Jawa. Bahkan dari pemilik rumah tersebut yang menggunakan atap joglo pada kenyataannya bukan orang Jawa. Di sini dinamisme sosial dan budaya telah mengawali perubahan pada masyarakat yang berakibat dan berpengaruh terhadap tempat huniannya. Adanya pengaruh tadi terlihat dari adanya perubahan tingkat ekonomi masyarakat yang dapat menaikkan derajat �status sosial� bentuk rumah mereka, dan bukan pada penghuninya.
Penyebab utama adalah adanya kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh para penentu kebijakan (dalam hal ini pemerintah) yang ingin mentransformasikan budaya �ke-daerahan atau identitas ciri-khas� dengan cara memaksa serta mengharuskan mereka untuk mengubah bagian dari bentuk rumahnya. Sebagai contoh misalnya, pada permukiman di daerah perkotaan maupun di tingkat perdesaan banyak atap rumahnya harus mencerminkan ciri-khas daerah setempat, dinding ataupun atap rumah harus dicat warna tertentu, harus diberi pagar yang seragam, dan masih banyak lagi. Di sini terjadi ekspansi ide dasar yang menjurus kepada vandalisme arsitektur. Yang seolah-olah menutup kreatifitas masyarakat lingkungan sosial budayanya dalam mengikuti perkembangan jaman. Kalau meminjam istilah psikolog Darmanto Jatman disebut pemaksaan jatidiri secara atributif. Hal ini akan mengundang persepsi yang serba salahkaprah.
Ide desain pun akhirnya menjadi bagian dari pop architecture (bentuk atau style arsitektur yang dapat muncul kembali setiap saat), yang berkembang merajalela di sekitar tahun 80-an. Salah satunya adalah style bangunan rumah tinggal dengan gaya kapsul betonnya. Dapat dikatakan bahwa style semacam itu sebagai impian model rumah tinggal modern. Pergeseran desain pun terjadi, bentuk yang tadinya menjadi populer saat itu, akhirnya bergeser ke sebuah bentuk baru, yaitu gaya Spanyolan dengan arsitektur ionic atau doric dengan lengkung-lengkungan dan kolom ala Yunani, menjadikan kearoganan baru dalam tatanan sosial bagi penghuni rumah tinggal tersebut. Popularitas gaya arsitektur itu pun akhirnya juga tenggelam, dan muncul sebuah tatanan baru, yaitu style mediteranean. Sebuah visi arsitektur adaptif yang mengkombinasikan unsur tropis dengan arsitektur indis ini berkembang sampai akhir tahun 2000-an. Dengan tradisi dan budaya beberbeda mencoba memberikan sebuah wacana dalam fisik dimensional bentuk tatanan rumah tinggal. Style ini pun tidak lama bertahan, suatu langgam baru muncul dengan bentuk minimalis sampai pada tatanan interior dan furniturenya. Secara simbolik menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat konsumer yang mendambakaan sebuah tatanan rumah tinggal baru. Kecenderungan ini sudah menyusup keseluruh bagian tatanan permukiman di Indonesia baik yang di kota maupun perdesaan meskipun hanya secara eklektis mengambil konsep style minimalis. Di sini urbanisme menjebak masyarakat dalam kebebasan untuk menentukan tempat kehidupan berarsitektur. Pengaruh dari perkembangan arsitektur telah membebani kehidupan berarsitektur masyarakat kota dan desa. Aspek tatanan budaya dan fisik mereka dijadikan objek sebuah tatanan baru yang berbeda dengan geografis-kultural setempat, sehingga menenggelamkan kerifan lokal yang mereka punyai.
Arsitektur itu diciptakan sebagai wadah untuk proses kehidupan manusia, melindungi dan memberikan akan kebahagiaan penghuninya. Dengan bentuk dan tatanan yang sangat beragam, kondisi geografis-kultural yang berbeda serta memunculkan adanya kearifan lokal. Di dalam arsitektur style ataupun langgam berjalan tanpa ada batas-batasnya. Meskipun konfigurasinya sangat dipengaruhi oleh konsumerisme masyarakat terhadap perkembangan style di dalam arsitektur. Dengan demikian, proses perjalanan sejarahnya pun tidak dapat dipolitisasi bahkan direkayasa. Hal ini menjadi penting agar tidak menghentikan tradisi budaya mereka yang sudah berjalan secara turun-temurun sebagai warisan.
Pemiskinan akan pemahaman berarsitektur terjadi akibat sloganisasi para arsitek dan perencana kota dalam menstrukturkan tatanan lingkungannya. Penentuan dalam membuat bagian kehidupan berarsitektur telah terpolarisasi, sehingga masyarakat menjadi konsumer. Hal ini akan membuat pola ruang kota yang tadinya urban-tradisionalistik bergeser menjadi urban-modernis. Budaya urban tersebut secara perlahan akan masuk menjadi bagian yang akan mempengaruhi perkembangan arsitektur di Indonesia. Sukar untuk dibendung, dalam kehidupan berarsitektur dewasa ini, kehadirannya dijadikan sebagi objek yang menentukan bagi segala kaidah dalam kehidupan berarsitektur. Dengan perubahan warna budaya tersebut, kota dijadikan sebagai tempat bernaungnya struktur kehidupan masyarakat baru, dengan segala perubahan pola fisik tata ruang huniannya. Pemiskinan budaya ini berlanjut ke dalam pola kehidupan masyarakat kota yang modernis. Hal ini sejalan dengan perkembangan arsitektur barat yang melanda kota-kota di Indonesia saat ini. Lahan perkotaan dengan segala aspeknya kehidupannya menjadi bagian yang empuk oleh para arsitek untuk mengekspresikan ide dan gagasannya. Terkadang para arsitek tersebut melakukannya dengan mengorbankan kearifan lokal dan geografis-kultural masyarakat setempat. Sehingga tontonan tersebut cukup menarik bagi kehidupan modern, akan tetapi mematikan kultur budayanya masyarakat lokal. Bahkan perkembangan style arsitektur ataupun bentuk-bentuk modern lain menjadikankan pemiskinan budaya lokal yang justru merugikan bagi masyarakat luas.
Penyebab utama adalah adanya kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh para penentu kebijakan (dalam hal ini pemerintah) yang ingin mentransformasikan budaya �ke-daerahan atau identitas ciri-khas� dengan cara memaksa serta mengharuskan mereka untuk mengubah bagian dari bentuk rumahnya. Sebagai contoh misalnya, pada permukiman di daerah perkotaan maupun di tingkat perdesaan banyak atap rumahnya harus mencerminkan ciri-khas daerah setempat, dinding ataupun atap rumah harus dicat warna tertentu, harus diberi pagar yang seragam, dan masih banyak lagi. Di sini terjadi ekspansi ide dasar yang menjurus kepada vandalisme arsitektur. Yang seolah-olah menutup kreatifitas masyarakat lingkungan sosial budayanya dalam mengikuti perkembangan jaman. Kalau meminjam istilah psikolog Darmanto Jatman disebut pemaksaan jatidiri secara atributif. Hal ini akan mengundang persepsi yang serba salahkaprah.
Ide desain pun akhirnya menjadi bagian dari pop architecture (bentuk atau style arsitektur yang dapat muncul kembali setiap saat), yang berkembang merajalela di sekitar tahun 80-an. Salah satunya adalah style bangunan rumah tinggal dengan gaya kapsul betonnya. Dapat dikatakan bahwa style semacam itu sebagai impian model rumah tinggal modern. Pergeseran desain pun terjadi, bentuk yang tadinya menjadi populer saat itu, akhirnya bergeser ke sebuah bentuk baru, yaitu gaya Spanyolan dengan arsitektur ionic atau doric dengan lengkung-lengkungan dan kolom ala Yunani, menjadikan kearoganan baru dalam tatanan sosial bagi penghuni rumah tinggal tersebut. Popularitas gaya arsitektur itu pun akhirnya juga tenggelam, dan muncul sebuah tatanan baru, yaitu style mediteranean. Sebuah visi arsitektur adaptif yang mengkombinasikan unsur tropis dengan arsitektur indis ini berkembang sampai akhir tahun 2000-an. Dengan tradisi dan budaya beberbeda mencoba memberikan sebuah wacana dalam fisik dimensional bentuk tatanan rumah tinggal. Style ini pun tidak lama bertahan, suatu langgam baru muncul dengan bentuk minimalis sampai pada tatanan interior dan furniturenya. Secara simbolik menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat konsumer yang mendambakaan sebuah tatanan rumah tinggal baru. Kecenderungan ini sudah menyusup keseluruh bagian tatanan permukiman di Indonesia baik yang di kota maupun perdesaan meskipun hanya secara eklektis mengambil konsep style minimalis. Di sini urbanisme menjebak masyarakat dalam kebebasan untuk menentukan tempat kehidupan berarsitektur. Pengaruh dari perkembangan arsitektur telah membebani kehidupan berarsitektur masyarakat kota dan desa. Aspek tatanan budaya dan fisik mereka dijadikan objek sebuah tatanan baru yang berbeda dengan geografis-kultural setempat, sehingga menenggelamkan kerifan lokal yang mereka punyai.
Arsitektur itu diciptakan sebagai wadah untuk proses kehidupan manusia, melindungi dan memberikan akan kebahagiaan penghuninya. Dengan bentuk dan tatanan yang sangat beragam, kondisi geografis-kultural yang berbeda serta memunculkan adanya kearifan lokal. Di dalam arsitektur style ataupun langgam berjalan tanpa ada batas-batasnya. Meskipun konfigurasinya sangat dipengaruhi oleh konsumerisme masyarakat terhadap perkembangan style di dalam arsitektur. Dengan demikian, proses perjalanan sejarahnya pun tidak dapat dipolitisasi bahkan direkayasa. Hal ini menjadi penting agar tidak menghentikan tradisi budaya mereka yang sudah berjalan secara turun-temurun sebagai warisan.
Pemiskinan akan pemahaman berarsitektur terjadi akibat sloganisasi para arsitek dan perencana kota dalam menstrukturkan tatanan lingkungannya. Penentuan dalam membuat bagian kehidupan berarsitektur telah terpolarisasi, sehingga masyarakat menjadi konsumer. Hal ini akan membuat pola ruang kota yang tadinya urban-tradisionalistik bergeser menjadi urban-modernis. Budaya urban tersebut secara perlahan akan masuk menjadi bagian yang akan mempengaruhi perkembangan arsitektur di Indonesia. Sukar untuk dibendung, dalam kehidupan berarsitektur dewasa ini, kehadirannya dijadikan sebagi objek yang menentukan bagi segala kaidah dalam kehidupan berarsitektur. Dengan perubahan warna budaya tersebut, kota dijadikan sebagai tempat bernaungnya struktur kehidupan masyarakat baru, dengan segala perubahan pola fisik tata ruang huniannya. Pemiskinan budaya ini berlanjut ke dalam pola kehidupan masyarakat kota yang modernis. Hal ini sejalan dengan perkembangan arsitektur barat yang melanda kota-kota di Indonesia saat ini. Lahan perkotaan dengan segala aspeknya kehidupannya menjadi bagian yang empuk oleh para arsitek untuk mengekspresikan ide dan gagasannya. Terkadang para arsitek tersebut melakukannya dengan mengorbankan kearifan lokal dan geografis-kultural masyarakat setempat. Sehingga tontonan tersebut cukup menarik bagi kehidupan modern, akan tetapi mematikan kultur budayanya masyarakat lokal. Bahkan perkembangan style arsitektur ataupun bentuk-bentuk modern lain menjadikankan pemiskinan budaya lokal yang justru merugikan bagi masyarakat luas.
Copyright � 2008 by Antariksa
0 komentar:
Posting Komentar