Pages

Sabtu, 25 Agustus 2007

ARSITEK DAN ARSITEKTURNYA PERJALANAN YANG MEMPRIHATINKAN

Antariksa


DENGAN melihat obsesi dari arsitektur saat ini, kita akan dihadapkanpermasalahan yang begitu luas dan kompleks. Seluruhnya akan memberikan sengatan perhatian bagi para arsitek yang sedang mencoba mencari identitas dan kepribadiannya dengan segala keinginan agar semuanya dapat dituangkan menjadi satu wujud yang nyata. Meskipun dihantui oleh teknologi, bahan, dan arsitektur tradisional. Banyak karya yang dapat dikatakan berhasil, tetapi banyak pula yang dipertanyakan oleh masyarakat.
Akhir-alhir ini banyak terlihat keadaan, begitu hebatnya pengaruh unsur-unsur arsitektur asing (spanyolan) yang sudah merasuk di dalam tata-arsitektur kita. Dengan demikian tidak jarang kita jumpai adanya rumah baru yang mempunyai bentuk kosen pintu jendela dengan gaya spanyolan, kolom-kolom penyangga gaya Romawi,interiornya penuh dilapisi wall paper dan porselin darimItali, dan tidak lupa dilengkapi dengan bar dan kolam renang gaya Amerika. Menurut YB. Mangunwijaya, sebagai arsitektur �pungli� (pungut sana pungut sini secara liar).
Kumudian muncul pula gejala ornamentalitas baik yang kuno (antik) maupun modern pada dinding-dinding rumah tinggal, mulai dari yang menggambarkan ceritera wayang sampai pada gaya kubismenya Picaso, penuh kesombongan dengan lingkungannya.
Ada keprihatinan untuk mempertanyakan apakah ungkapan arsitektur seperti di atas akan menjadi arah perkembangan arsitektur Indonesia. Demikian meluncur terus gaya arsitektur di tanah air. Dari jakarta menyebar ke kota-kota besar lainnya. Gaya yang dianggap �khas� dijiplak di kota-kota lain, seakan-akan mencari gaya arsitektur Indonesia. Munculah plaza=plaza di kota-kota besar sebagai tanda pusat perdagangan. Model-modelnya hampir sma, dilapisi kaca dan keramik lengkap dengan eskalatoenya, tanpa mempertimbangkan arsitektur tropis.
Dalam konteks itulah mengapung kebingungan intelektual para arsitek, sementara itu Mario Salvadori mengatakan, bahwa mungkin profesi arsitekur adalah profesi terakhir manusia yang manusiawi. Semakin luas nuansa membuka paradigma arsitektur, semakin bertanya semakin bertanya �Kita ajan dibawa ke mana?� Dengan demikian segala macam cara akan ditempuh untuk dapat memberikan jawaban meskipun perlu waktu cukup lama.

Sisi Lain dari Industri Bangunan
Kebanyakan orang mengukur pentingnya sesuatu berdasarkan besarnya dan indahnya bangunan yang diperuntukkan bagi nilai itu. Kita teringat masa abad pertengahan, ketika itu bangunan yang merupakan harta seni paling agung adalah gereja dan katedral, sebab iman adalah nilai yang tertinggi (yang paling tinggi) bagi masyarakat abad pertengahan.
Tetapi kalau kita ihat industri bangunan saat ini, brangkali memang hanya sebuah teladan dari sebuah ambisi pembangunan. Seperti, bangunan-bangunan mewah, gedung pencakar langit, pusat pertokoan, hotel, dan sebagainya, sudah tumbuh subur sebagai hutan beton di tengah kota menguasai sgala-galanya, yang tampil dengan tegar dan dingin di sela-sela perkampungan kumuh. Industri bangunan tidak menjawab dengan melakukan pembaruan-pembaruan baik pada produk-produknya maupun dalam prosedur-prosedurnya.
Industri tersebut meluas dalam kerangka terpecah-pecah, investasi modal rendah, dengan operasi-operasi setempat. Hassan Fathy mengatakan, ���.sebuah visi arsitektur sebelum jaman keruntuhan, sebelum uang, industri, keserakahan dan snobisme, telah merenggut arsitektur dari akarnya yang sejati pada alam�. Kultus dan ritusnya menentukan pertumbuhan dan keruntuhan suatu lembaga, dan arsitektur menguasai nasib setiap individu. Paradigma universal dari keberadaan industri haruslah menjadi kaidah filosofis yang melandasi penciptaan, penerapan dan penggunaannya.

Dari Pasca Modern ke Pasca Industri
Kalau di atas tadi sedikit cerita tentang arsitektur yang sedang melanda negeri kita akhir-akhir ini, sebaiknya kita tengok juga pekembangan arsitektur Barat, yang mungkin menjadi cikal bakal arsitektur pasca modern, meskipun saat ini berada dalam era post modern.
Sebetulnya ad tiga tokoh besar peletak dasar prinsip-prinsip arsitektur modern. Mereka adalah Mies van der Rohe, Le Corbusier, dan Frank Llyod Wright. Mereka telah menyusun secara jelas dan tegar prinsip-prinsip arsitektur, bagaikan arsitektur yang hidup di jaman Renaisance, mempunyai disiplin sangat kuat. Mies van der Rohe dengan �Less is more� mencari keindahan dalam kesederhanaan yang �noble and monumental� melalui bahan kaca dan baja. Frank Lloyd Wright dengan �Form Follow Function� menelorkan konsep �Organic Architecture� dan Le Corbusier terkenal dengan bukunya �Le Moduler�.
Itulah sebagian gerak langkah awal dari pergerakan aersitektur yang telah dilakukan olek ketiga tokoh di atas, segala isi dan makna dari konsep-konsep yang ada telah diserap oleh para arsitek di seantero dunia.. Ada beberapa yang sedikit ragu mencobanya agar dapat dikatakan penganut salah satu di antara ketiganya. Sangatlah sulit untuk tidak bisa diterima secara nyata, dan mungkin sudah bukan saatnya lagi, penonjolan konsep yang individualistis di antara masyarakat kita yang mempunyai beragam kebudayaan, ekonomi dan tingkat sosial. Mungkin juga saat ini sudah berakhir bagi pahlawan-pahlawan arsitektur yang individualistis. Karena arsitektur masa mendatang adalah kota.
Di tempat lain, muncullah gedung pencakar bumi Perekayasaan Sipil dan Mineral Universitas Minnesota, karya arsitek David Bennet, seorang yang pragmatis berpandangan jauh ke depan, setidak-tidaknya merupakan bentuk perwujudan awal dari apa yang disebut sebagai �arsitektur pasca-industri�. Ia pun berceloteh, �Kita tidak bisa berlama-lama menunggu untuk memiliki sebuah sekolah arsitektur untuk sebuah negeri ini (Amerika) dari Minnesota ke Miami�. Kita harus belajar sejak sekarang mengelola sumberdaya yang kita miliki secara cerdas.
Lebih menarik lagi latar filosofisnya Dries Kriejkamp, dalam merencanakan �rumah bola�nya di Den Bosch Nederland ia mengatakan, bahwa bentuk-bentuk bulat sangat wajar dan manusiawi, lihatlah ruangan tempat berlindung manusia pertama kali �peranakan ibunya�. Di sisi lain, Richard Buchminster Fuller merupakan yang besar pengaruhnya, yang sebelum perang dunia sudah bereksperimen dengan rumah logam ringan dan dalam tahun 1957 mendirikan rumah kubah. Dengan melodi lagu, ia membuat masa depan rimah bola prefab: �Room home to a dome / where Georgian and Gothic oncestood / now chemical bonds a lone guard our blonds / and even the plumbing looks good.�
Demikianlah pengembaraan arsitektur yang mungkin juga telah melupakan dn meninggalkan harga diri manusia, terkadang manusia menjadi objek percobaan arsitek di dalam mengungkapkan gagasannya. Persepsi dan fakta akan memberikan isyarat, bahwa arsitektur masa kini dan masa mendatang haruslah merupakan bahasa arsitektur yang mampu mengkomunikasikan ekspresi kemanusiaan dan nilai-nialai martabatnya. Bagaimanapun juga perjalanan kebudayaan dan arsitektur saling berkaitan, mereka mempunyai kontribusi yang sangat berarti, sehingga jangan sampai membangun kmegahan dan kegemerlapan, malahan menuju jalan kemiskinan. Jika hal tersebut hanya membawa kenikmatan sesaat, rasanya perlu kita halau, karena ini masalah manusia dengan segala tingkah lakunya. Tentu saja ini bukan berarti menjawab tuntutan emosi, keindahan atau efisiensi ruang, tapi lebih dari itu. Seperti apa yang dikatakan oleh Hario Sabrang, bangunan menurut dia harus dapat dinikmati dan dapat menghubungkan diri dengan bangunan-bangunan lainnya serta dengan lingkungan alam sekitarnya.
Tradisi mungkin tidak lagi dipandang sebagai sisi lain dari yang �modern� tapi merupakan proses kesinambungan dari sejarah yang mengemban makna dan tersimpul sebagai nilai-nilai bukan medianya (bentuk, tekstur dan bahan).
Melihat kompleksnya masalah dalam bidang arsitektur, maka perumusan konsep arsitektur harus dilakukan secara sederhana tapi jelas. Pembauran arti dari arsitektur pertanda dan yang ditandai akan mempersukar perumusan konsep, apalagi bila harus menyentuh bagian-bagian yang menyinggung rasa, estetika dan citra. Bangunan dan lingkungan yang mempunyai nilai arsitektur ataupun nilai sejarah perlu diperhitungkan dan menjaga keseimbangan citra dalam perkembangan arsitektur Indonesia. Berbeda dengan era arsitektur modern yang menonjolkan fungsionalisme yang pada arsitektur universal (international style), maka dalam era pasca modern sekarang ini semua bangsa menginginkan adanya citra dan kepribadian arsitekturnya masing-masing.


Tulisan ini telah dimuat dalam harian Suara Indonesia tanggal 2 Januari 1986

0 komentar:

Posting Komentar