Pages

Minggu, 26 Agustus 2007

DARI KOTA INDIS KE KOTA �RUKO

Antariksa

PERKEMBANGAN arsitektur dewasa ini sudah semakin menggelisahkan kota-kota besar di Indonesia. Dampak perubahan ekonomi dan politik membuat satu perubahan yang sangat cepat dalam dua tahun terakhir ini. Krisis ekonomi yang dikatakan telah terjadi sejak empat tahun yang lalu ternyata telah membangkitkan pembangunan yang tidak terkendali di pelbagai bidang. Kota sebagai wacana simbol arsitektur dan masyarakat dengan perjalanan ruang-waktu menghadirkan perkembangan dan perubahan. Dan akhirnya lahan-lahan yang tadinya diperuntukkan bagi permukiman berganti menjadi pusat-pusat perdagangan.
Penyalahgunaan tata guna lahan semakin menjadi tradisi di setiap kota, menjadi komoditi ekonomi bagi pengusaha-pengusaha yang seolah menghormati arsitektur sebagai salah satu bagian dari strategi bisnis mereka. Hal ini membangkitkan kecenderungan untuk melihat pada bangunan-bangunan sebagai objek investasi. Pada masa Orde Baru, dampak politik ke dalam arsitektur semakin menjadi-jadi, penyeragaman pagar rumah dengan warna cat yang sama �warna kuning� telah menjadi kiblat peradaban manusia yang terdesak oleh pemahaman salah-kaprah yang diberikan oleh para penguasa pada waktu itu. Vandalisme pada bangunan pun juga terjadi pada tahun 90-an baik yang ada di pusat kota sampai ke pelosok-pelosok desa dengan mengecat genting pada atap-atap rumahnya dengan menggunakan huruf kapital �PKK�, menjadikan sesuatu yang harus dipatuhi. Hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak azasi berarsitektur yang terjadi pada bangunan milik masyarakat. Sebenarnya, tujuan dari arsitektur itu adalah untuk melindungi dan menaikkan kehidupan manusia di atas bumi dan memenuhi keyakinan untuk hidup yang lebih mulia.
Era reformasi yang menjadi impian dari masyarakat telah memberikan dampak terhadap perkembangan arsitektur saat ini. Di tengah krisis ekonomi yang sering diucapkan, ternyata pembangunan semakin meningkat di setiap kota, yang akhirnya akan memberikan warna tersendiri bagi perkembangan arsitektur pada masa ini. Dari pasca kolonial dengan arsitektur �jengki�nya, kemudian disusul dengan gaya arsitektur bentuk kapsul, spanyolan, country, dan mediteranian telah memberikan sentuhan pada bangunan-bangunan permukiman sampai saat ini. Gaya-gaya di atas berkembang dan akhirnya juga memberikan sentuhan stylenya pada perkembangan pusat-pusat perdagangan yang akhir-akhir ini berkembang menjadi �ruko� (rumah dan toko). Meskipun di dalam perkembangannya, banyak banguan �ruko� yang tidak sesuai dengan peruntukkan guna lahannya. Hal yang paling menarik adalah pembangunan �ruko� di Jl. Galunggung ditolak oleh pengurus dan warga sekitar Pondok Pesantren Gading. Soalnya, �ruko� yang akan dibangun itu persis di sebelah barat areal pondok. Sementara berdasarkan pengamatan warga dan pengurus ponpes, pembangunan �ruko� tidak ada dampak positifnya. Bahkan warga dua lokasi itu sudah mengajukan keberatan kepada Dinas Kimpraswil Pemkot Malang dan DPRD Kota Malang Jawa Pos radar malang, 18 Juli 2002).
Kota Malang memiliki banyak sejarah bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang mempunyai nilai dan aset tinggi bagi pemerintah kota Malang. Perubahan dan pergeseran sekarang ini banyak terjadi pada bangunan-bangunan indis (percampuran antara arsitektur lokal/pribumi dengan arsitektur barat dalam hal ini Belanda) menjadi dasar bisnis factory outlet yang menjamur di kota Malang dalam dua tahun terakhir ini. Dampak tersebut mengakibatkan pada perubahan dan penambahan dengan menghilangkan keaslian dari bangunan indis. Kalau kita amati proses dan peraturan pelestarian yang ada di kota ini tidak berjalan dengan baik, hari demi hari perubahan terjadi di mana-mana, tanpa dapat dikendalikan lagi. Ditambah lagi dengan menjamurnya pembangunan �ruko� yang semakin meluas, dari barat ke timur dan dari utara ke selatan bejajar �ruko-ruko�, sehingga akan menenggelamkan arsitektur indis yang terdapat di kota Malang agar dipertahankan untuk dilestarikan. Karena semakin lama akan semakin terdesak oleh penggusuran dan akhirnya sampai pada penghancuran bangunan untuk dijadikan bangunan baru. Bila hal ini pemerintah kota tidak melakukan tindakan untuk mengantisipasinya, maka dalam dua atau tiga tahun ke depan kota Malang akan berubah menjadi kota �ruko� dengan gaya arsitektur eklektis (tempel sana tempel sini). Sebuah kepalsuan dalam gaya arsitektur ini diketahui sangat radikal, di sini fungsi menjadi sangat dominan yang akhirnya merosot ke dalam istilah �membangunan sebuah diagram� yang sudah sangat umum terlihat pada bangunan-bangunan �ruko� yang terdapat di kota-kota Indonesia dewasa ini. Dalam kenyataan, arsitektur tidaklah hanya sebuah pertanyaan bagaimana benda-benda itu dikerjakan, tetapi juga apa yang harus dikerjakan. Apa tugas bangunan, adalah merupakan manifestasi dari jalan kehidupan kita.
Sangat benar bahwa sistem tradisi di Indonesia didapati sangat berat untuk menghadapi tantangan dari Barat terutama melalui era globalisasi nantinya. Pertanyaan yang paling sukar adalah bagaimana untuk menetapkan tradisi yang harus dimodifikasi tanpa menghilangkan identitas kebudayaan individu di dalam proses tersebut. Moral dari gaya arsitektur �ruko� pada waktu ini telah membuat keuntungan sangat besar bagi pengusaha tentunya, gaya dapat berganti-ganti, tetapi tidak ada alternatif kebenarannya. Awal keberangkatannya dari gaya arsitektur ini telah membuat perubahan pada hampir seluruh kota-kota di Indonesia. Secara skematis telah diformasikan ke dalam pola-pola tertentu yang mungkin telah kehilangan karakter dan tatanan lingkungan di dalam penampilannya. Kota-kota menjadi ajang persaingan merubah pola serta bentuk aslinya. Dan kota merupakan organisme yang mempunyai bentuk bermacam-macam tentunya. Kalau kita perhatikan sebagian dari hancurnya penataan sebuah kota salah satunya diakibatkan oleh munculnya perkembangan baru dari arsitektur. �Ruko� di antaranya, yang tentunya akan memakan tempat, ruang dan pola kehidupan manusia. Hal ini berakibat luas ke bagian paling kecil dari organisme kota, yang mungkin juga menghambat pertumbuhan kota itu sendiri.


Tulisan ini telah dimuat dalam harian Jawa Pos Radar Malang Tanggal 16 Agustus 2002

0 komentar:

Posting Komentar