Antariksa
Menjelang abad ke-21 telah terjadi perubahan besar pada perkembangan arsitektur Post Post-modern di Jepang. Para arsitek seperti, Fumihiko Maki, Arata Izozaki, Hara Hirose, Tadao Ando, Edward Suzuki, Kiko Mozuna, Shin Takamatsu, dan sebagainya, saling berlomba untuk menemukan ide-ide baru yang terkadang tersembunyi dalam satu manifestasi yang sukar untuk diduga ke mana arah tujuannya. Ide-ide tersebut terlepas dari tatanan budaya dan sejarah yang mereka punyai bahkan mungkin juga filosofinya..
Pada tahun 70-an konsep tradisional dari machinami (jalan dengan jajaran rumah-rumah dan gudang-gudang) baru dikembangkan sebagai perwujudan yang jelas dari keselarasan yang terus-menerus ingin menciptakan bangunan di dalam kota, yang secara visual mempunyai pola dan karakter yang sama, dan tentu saja hal ini merupakan dasar dari manipulasi ide di atas. Kemudian Post-modern datang menyusup masuk ke dalam kota sebagai katalisator, yang mengubah konsep machinami ke dalam sebuah ideologi dari �lingkungan�. Bangunan-bangunan terkadang sudah terbagi menjadi dua karateristik �urban culture� yang mentransmisikan simbol-simbol sebagai latar belakang kebudayaan tradisional. Simbol-simbol folosifi dari udara, langit, air, angin, dan api diekspresikan sebagai dialog antara manusia dan alam. Sebuah kombinasi dari impian yang romantik antara teknologi dan nilai spiritual dicoba untuk diwujudkan ke dalam ungkapan fisik. Seperti Art Tower Mito karya arsitek Arata Isozaki atau Chapel on the Water dan Church of the Light karya arsitek Tadao Ando, yang akhirnya menerima award The Carlsberg Arcaitectural Prize 1992 dari pemerintah Denmark, dan award tersebut diberikan langsung oleh Ratu Margrethe II di Kopenhagen pada tanggal 29 Mei 1992. Demikian juga dengan masuknya arsitektur asing seperti, Il Palazzo karya arsitek Aldo Rossi dan Eishin Gakuen Higashino High School karya arsitek Christopher Alexander, telah ikut juga dalam memeriahkan arsitektur Post Post-modern di Jepang. Ide dan tradisi menjadi monolitik ditata ke dalam lingkungan urban yang monumentalis, bentuk-bentuk bangunan menjadi kelihatan atraktif dan dramatis. Hal inilah yang memebawa pada usaha untuk mencipta �ruang� tempat manusia dan bangunan menuntut identitasnya. Kemudin berbagai macam permasalahan telah muncul di antaranya, masalah energi, ekologi yang berdampingan dengan alam, dan teknologi yang datang untuk menarik perhatian masyarakat umum. Akhirnya, sebagai hasil dari �buble economic� mengakibatkan meroketnya harga tanah dan ekspansi dari masyarakat pekerja sedemikian luasnya, dan di sini arsitektur sendiri menjadi berubah bentuknya menandai tragedi dari arsitektur post modernnya Jepang di awal tahun 80-an. Fenomena tersebut memberikan sebuah penglihatan ke dalam, adanya sebuah tendensi yang menjadi sifat Jepang untuk selalu �bergerak� dan untuk menjawab sebagai permintaan akan kebutuhan.
Kelihatannya di sini banyak para pengusaha yang menghormati arsitektur sebagai salah satu bagian dari strategi bisnis mereka, membangkitkan kecenderungan untuk melihat pada bangunan-bangunan sebagai objek investasi. Para pengusaha datang dengan bermacam-macam rasionalisasi, seperti kebutuhan akan kelengkapan di dalam kegiatan sektor privat, mengembangkan pendapatan domestik untuk mengeliminasi perselisihan ekonomi dengan negara-negara lain, atau mempromosikan globlisasi di dalam aktivitas perusahaannya. Kelebihan likuidasi finansial dri perusahaan-perusahaan tersebut juga merupakan slah satu hl yang menimbulkan kecenderungan tersebut, dan timbulnya picu itulah yang menghantarkan datangnya fenomena arsitektur �Post post-modern�.
Belajar dari Sejarah dan Falsafah Arsitektur
Tidak ada salahnya kalau kita kembali pada sejarah arsitektur masa lalu, kemudian kita telaah lagi unsur-unsur filosofi yang melatar belakanginya. Demikian juga halnya dengan adanya inter-kultur yang mempunyai tujuan sangat penting dan merupakan bagian dari sejarah dan falsafah arsitektur. Seperti apa yang telah ditekankan oleh Kisho Kurokawa dalam Rediscovering Japanese Space, bahwa ada dua jalan pemikiran mengenai sejarah dan tradisi. Pertama, adalah sejarah yang dapat kita lihat seperti, bentuk arsitektur, elemen dekorsi, dan simbol-simbol yang telah datang pada kita. Kemudin yang kedua, adalah sejarah yang tidak dapat kita lihat seperti, sikap, ide-ide, filosofi, agama, keindahan, dan pola kehidupan. Di sini yang menarik adalah sebuah ide dari seorang arsitek Jepang Yoshinobu Ashihara dalam tulisannya �Wood Cities for 21st Century� enam tahun yang lalu, beliu menginginkan sebuah kota yang ditransformasikan ke dalam salah satu blok-blok kayu, seperti pondok-pondok yang terdapat di Switzterland atau Tyrol di Austria. Serta papan-papan nama dari plastik yang tak sedap di pandang mata diganti dengan papan-papan dari kayu seperti pada masa Edo (1596~1868) di Jepang. Hal semacam ini (klasik) teus berlanjut dalam Design Expo 89 di Nagoya, dengan tema Discoveries from History, terlihat dengan jelas sekali perbandingan sebuah bangunan yang dipresentasikan antara rasa keindahan Barat karya Leonardo dan Vinci seorang genius dari masa Renaissance di Italy, sedangkan dari Timur (Jepang) adalah karya senno-Rikyu (1521-1591) yang merancang tempat upacara minum the ke dalam seni. Mengungkapkan sebuah perbandingan antara Barat dan Timur, antara sejarah dan tradisi. Dengan tujuan untuk mencapai inter-kultur baru. Ide tersebut masih berlanjut dengan tema �Discovering Why � The Origin and The Future of Japan� dalam The Seville Universal Exposition (Expo �92) di Spanyol. Jepang ikut berpartisipasi turut serta berperan dalam merayakan 500 tahun peringatan sejarah dari pelayaran Christopher Colombus. Sebuah bangunan yang ditata dari bahan kayu mencerminkan sejarah dan kebudayaan masa edo, di bawah komando dari arsitek Tadao Ando berhasil menciptakan sebuah tatanan bangunan yang mempunyai karakter budaya khas arsitektur masa lalunya. Sebuah elemen yang menggambarkan identitas budaya sebagai simbol yang menstransmisikn sebuah bangsa yang modern, identitas ini adalah merupakan karakter dari �kinari�, yang berarti bertahan secara alamiah.
Untuk mengakhiri tulisan ini, yang menarik dan perlu kita telaah adalah pesan filosofis dari Ehei Dogen (1200-1253) seorang bhiku dari abad ke-13 yang membawa aliran baru (sekte S�t�) dalam Zen Buddhism mengatakan, �Biarkan langgam dan style berkembang seperti yang mereka mungkinkan: apa yang terpenting adalah menulisnya ke dalam detail kebenaran yang ingin kamu katakan�. Ini dapat dikatakan sebuah simbiose antara filosofi dan arsitektur yang terungkap ratusan tahun lalu membawa satu peradaban tersendiri. Peradaban sebuah bangsa yang berjalan dengan waktu dan tatanan budaya tanpa banyak mengalami perubahan.
Tulisan ini telah dimuat dalam BATA MERAH Edisi Maret-April 1996
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar